Pasalnya, menurut catatan pemerintah Korea Selatan, tahun ini, jumlah bayi yang sudah dan akan lahir adalah sekitar 360.000 bayi. Ini adalah kali pertama Korea Selatan melihat angka kelahiran turun di bawah 400.000.
Angka itu memicu kekhawatiran rendahnya angka kelahiran akan berimbas pada perekonomian di masa depan. Tingkat kelahiran yang rendah berpotensi mengurangi jumlah orang dalam angkatan kerja dan meningkatkan biaya kesejahteraan bagi peningkatan populasi orang tua, yang merongrong potensi pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah Korea Selatan menyebut bahwa penurunan angka tersebut disebabkan karen tingginya angka pengangguran muda.
Sedangkan di kalangan masyarakat muda Korea Selatan, sejumlah hal yang menyebabkan mereka enggan memiliki anak dalam waktu dekat adalah karena meningkatnya biaya kehidupan, termasuk harga beli atau sewa rumah dan apartemen dan meningkatnya biaya pendidikan.
Wanita Muda Korea Selatan memiliki kekhawatiran lebih tinggi, terutama soal adanya kebijakan cuti hamil yang lemah dan perlawanan keras oleh laki-laki untuk membantu pekerjaan rumah tangga,
Pemerintah Korea Selatan sendiri telah menggelontorkan dana sekitar 70 miliar dolar AS untuk mencoba mendongkrak angka kelahiran yang mengalami tren penurunan. Dana itu dialokasikan untuk bonus bagi bayi yang baru lahir, memperbaiki cuti bagi ayah dan membayar perawatan tanpa infertilitas.
[mel]
BERITA TERKAIT: