Sejumlah ahli mengatakan aturan baru tampak bertentangan dengan ilmu pengetahuan komputer dasar.
Larangan, yang memungkinkan perangkat untuk disimpan di check in bagasi, mempengaruhi penerbangan dari sepuluh bandara di Yordania, Mesir, Turki, Arab Saudi, Maroko, Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab.
"Ini aneh, karena tidak cocok dengan model ancaman konvensional," kata Nicholas Weaver, peneliti di International Computer Science Institute di University of California, Berkeley.
"Jika Anda menganggap penyerang tertarik dalam mengubah laptop menjadi bom, itu akan bekerja sama dengan baik di kargo," sambungnya.
Sementara jika ada kekhawatiran soal peretasan, ia mengingatkan bahwa ponsel juga merupakan komputer dan berpotensi diretas.
[mel]
BERITA TERKAIT: