Hal itu terungkap dalam laporan tahunan World Happiness Report 2017 yang diproduksi oleh PBB tahun ini.
Denmark, Islandia, Swiss, Finlandia, Belanda, Kanada, Selandia Baru, Australia dan Swedia menempati posisi 10 negara paling bahagia di dunia.
Sementara di posisi paling buncit diisi oleh negara-negara di sub-Sahara Afrika, bersama dengan Suriah dan Yaman.
Ini adalah tahun kelima daftar tersebut dibuat oleh Jaringan Pembangunan Berkelanjutan Solusi (SDSN) di PBB.
Sudan Selatan, Liberia, Guinea, Togo, Rwanda, Tanzania, Burundi dan Republik Afrika Tengah juga berada di posisi bawah.
"Negara bahagia adalah negara di mana orang-orangnya memiliki keseimbangan dan kemakmuran yang sehat seperti yang diukur secara konvensional, dan modal sosial, yang berarti tingkat kepercayaan yang tinggi di masyarakat, ketimpangan rendah dan kepercayaan pada pemerintah," kata Jeffrey Sachs, direktur SDSN dan penasihat khusus Sekjen PBB.
Sementara itu Amerika Serikat dalam daftar itu dari tahun lalu karena peningkatan ketidaksetaraan, ketidakpercayaan dan korupsi, serta langkah-langkah ekonomi yang dikejar oleh pemerintahan Trump akan membuat hal-hal buruk.
Daftar itu dibuat dengan didasarkan pada enam faktor yakni produk domestik bruto per kapita, harapan hidup, kebebasan, kemurahan hati, dukungan sosial dan tidak adanya korupsi dalam pemerintahan atau bisnis.
"Negara-negara paling rendah biasanya ditandai dengan nilai-nilai rendah di semua enam variabel," kata laporan itu.
Sachs mengatakan ia ingin bangsa untuk mengikuti contoh dari Uni Emirat Arab dan negara-negara lain yang telah menunjuk menteri kebahagiaan.
"Saya ingin pemerintah untuk mengukur ini, mendiskusikannya, menganalisis dan memahami ketika mereka telah pergi dari arah yang salah," sambungnya seperti dimuat
The Guardian. [mel]
BERITA TERKAIT: