Selain karena haluan partainya, VVD yang kanan, ia juga diuntungkan oleh sikap pesaing utamanya, Geert Wilders dari Partai Kristen Demokrat (CDA) yang mengadopsi platform anti-imigran dan anti-Islam.
"Rutte bukan hanya memiliki keuntungan dari bergerak ke kanan, tetapi juga dari Wilders yang radikal," kata Cas Muddle, associate profesor di University of Georgia.
Bukan hanya itu, Rutte juga diuntungkan dengan masalah bilateral antara Belanda dan Turki beberapa waktu terakhir terkait keputusan Belanda memblokir masuknya menteri Turki karena dinilai hendak berkampanye soal referendum kepada warga Turki di Belanda.
"Di atas itu, Presiden Turki Erdogan memberi (Rutte) hadiah yang indah," sambungnya.
Dengan sekitar 95 persen suara dihitung, Partai VVD Rutte menang 33 dari 150 kursi parlemen yang diperebutkan. Wilders dengan partainya ada di posisi kedua dengan 20, CDA dan sentris Demokrat 66 di posisi ketiga dengan 19 masing-masing.
Profesor Sosiologi di Cornell University Amerika Serikat, Mabel Berezin mengatakan bahwa kekalahan Wilders sebenarnya tidak harus dianggap sebagai tanda bahwa populisme Eropa berkurang.
"Ia tidak mewakili gelombang populis. Sebaliknya, ia adalah bagian dari lanskap politik," sebutnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: