Langkah tersebut diambil setelah negara tersebut mengalami berbulan-bulan protes anti-pemerintah.
Ini adalah kali pertama situasi darurat diterapkan sejak partai berkuasa sejak 25 tahun lalu.
Perdana Menteri Ethiopia Hailemariam Desalegn menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk memulihkan ketertiban umum dan meredam aksi-aksi protes di seluruh negeri.
Di antara mereka yang berunjuk tasa adalah kelompok etnis terbesar Ethiopia, Oromos. Menurut catatan WHO, sekitar sepetriga dari 100 juta orang di negara tesebut merupakan etnis Oromos.
Namun kelompok etnis mayoritas tersebut termarginalisasi selama beberapa dekade terakhi akibat ketegangan yang meningkat dengan pemerintah menyusul upaya pemerintah mengambil alih lahan pertanian dari masyarakat Oromos.
"Situasi darurat disusul dengan diskusi menyeluruh yang dinyatakan oleh Dewan Menteri pada hilangnya nyawa dan kerusakan properti yang terjadi di negara ini," kata Desalegn.
"Kami ingin mengakhiri kerusakan yang sedang dilakukan terhadap proyek infrastruktur, pusat kesehatan, administrasi dan bangunan keadilan," sambungnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: