Keputusan bersejarah itu muncul setelah perhitungan suara terkait dengan referendum Brixit rampung dilakukan. Hasilnya, 52 persen warga Inggris memilih "leave" atau meninggalkan keanggotaan Inggris di Uni Eropa. Sedangkan 48 persen memilih untuk "remain" atau bertahan di persatuan negara-negara Eropa tersebut.
Kendati sebelumnya jajak pendapat banyak menunjukkan bahwa kedua kubu sama-sama memiliki potensi untuk menang karena selisih yang tipis, namun keputusan tersebut tetap saja mengejutkan, bukan hanya warga Inggris, tapi juga Eropa dan aliansi-aliansinya.
Sejak referendum dilakukan kemarin (Kamis, 23/6), pasar keuangan global mengalami kegelisahan dan terjadi lonjakan drastis, terutama terkait dengan nilai tukar pound sterling,
"Berani bermimpi bahwa fajar telah menyingsing pada kemerdekaan Inggris Raya," begitu kata pemimpin Partai Kemerdekaan Inggris Nigel Farage yang juga merupakan salah satu kekuatan utama di balik dorongan untuk referendum Brexit.
Dengan hasil akhir tersebut, Inggris akan menjadi negara pertama yang meninggalkan Uni Eropa yang saat ini tengah terbelit sejumlah masalah, salah satunya adalah gelombang imigran.
Di sisi lain, seperti dimuat
New York Times, hasil tersebut membuat posisi David Cameron di kursi Perdana Menteri lemah. Pasalnya, Cameron merupakan sosok yang lantang menyerukan agar Inggris mempertahankan keanggotaanya di Uni Eropa.
[mel]
BERITA TERKAIT: