Hasil perhitungan sementara menunjukkan bahwa warga Inggris yang memilih untuk "leave" atau hengkangnya Inggris dari Uni Eropa lebih besar daripada pemilih yang ingin Inggris bertahan. Presentasenya adalah sekitar 51,7 persen memilih hengkang dan 48,3 persen memilih untuk bertahan.
Namun demikian, itu bukan merupakan hasil akhir, kendati suara yang dihitung telah hampir 100 persen.
Proses perhitungan suara yang saat ini menunjukkan kecenderungan "leave" membuat gelisah pasar keuangan. Akibatnya, nilai tukar mata uang Inggris Pound sterling terhadap dolar Amerika Serikat merosot tajam hingga lebih dari 9 persen. Hal itu menjadikan pound sterling mencapai tingkat terendah dalam tiga dekade terakhir.
Reuters (Jumat, 24/6) mengabarkan bahwa keputusan akhir referendum tersebut telah diprediksi akan memukul investasi di negara dengan perekonomian terbesar kelima di dunia itu.
Bukan hanya pound sterling, nilai tukar Euro terhadap dolar AS juga merosot sekitar 3,5 persen. Hal itu terjadi karena adanya kekhawatiran Brexit akan menimbulkan kerusakan ekonomi dan politik yang lebih luas bagi negara-negara anggotanya.
[mel]
BERITA TERKAIT: