Begitu kata pendiri Universitas Bung Karno (UBK) Rachmawati Soekarnoputeri terkait dengan sikap Dewan Keamanan PBB yang saat ini tengah mempersiapkan sanksi baru bagi Korea Utara.
Sanksi baru yang diinisiasi oleh Amerika Serikat dan sekutunya di Asia itu diambil menyusul sikap Korea Utara yang melakukan uji coba bom hiidrogen Januari lalu dan peluncuran satelit luar angkasa yang dianggap Amerika Serikat sebagai roket pada awal Februari kemarin.
"PBB berencana kenakan sanksi terhadap Korea Utara karena Korea Utara melakukan percobaan roketnya, ini dianggap ancaman. Sebaliknya, bagaimana jika tentara Amerika Serikat bercokol lengkap dengan alutsistanya di sebelah Korea Utara. Untuk apa? Bisakah dianggap ancaman bagi rakyat Korea Utara?" kata politisi senior tersebut di Jakarta (Kamis, 25/2).
Rachma menilai bahwa sikap PBB untuk menerapkan sanksi merupakan tujuan dari kaum Nekolim yang memaksakan kehendak. Karena walau bagaimanapun, ujarnya, tidak dibenarkan untuk mencampuri kedaulatan suatu negara.
"Biarkan nasionalisme hidup di dalam taman sarinya internasionalisme melalui CONEF (Conference of the New Emerging Forces) yang masih relevan," tuturnya.
"Karena dunia masih jauh dari bentuk adil dan perdamaian, (bahkan telah memasuki) era Proxy War, perang asimetris," demikian Rachma.
[mel]
BERITA TERKAIT: