Begitu fakta yang dibeberkan dalam laporan terbaru Syrian Centre for Policy Research (SCPR) seperti dimuat
The Guardian (Kamis, 11/2). Dalam laporan itu disebutan bahwa setidak ada 470.000 warga Suriah yang tewas di tanah airnya akibat konflik tersebut sejak meletus hampir lima tahun lalu.
Dari data 470.000 jiwa itu, sekitar 400.000 jiwa secara langsung tewas karena kekerasan, sedangkan sisanya, 70.000 jiwa menjadi korban kurangnya pelayanan kesehatan yang memadai, obat-obatan, terutama untuk penyakit kronis, kekurangan makanan, air bersih, sanitasi dan perumahan yang layak, terutama bagi mereka yang mengungsi dalam zona konflik.
Sedangkan warga Suriah yang terluka akibat konflik mencapai hingga 1,9 juta jiwa.
Hal itu membuat tingkat harapan hidup di Suriah menurun drastis dari 70 persen pada tahun 2010 lalu menjadi 55,4 persen pada tahun 2015.
"Kami menggunakan metode penelitian yang sangat ketat dan kami yakin atas angka tersebut," kata penulis laporan, Rabie Nasser.
"Kematian tidak langsung akan lebih besar di masa depan, meskipun sebagian besar LSM dan PBB mengabaikan mereka," sambungnya.
Selain korban jiwa, konflik berkepanjangan di Suriah antara kelompok pemberontak dan rezim Presiden Bashar Al Assad itu juga menyebabkan terjadinya kerugian ekonomi yang secara keseluruhan diperkirakan mencapai 255 miliar dolar AS.
"Kami berpikir bahwa dokumentasi PBB dan estimasi resmi meremehkan korban karena kurangnya akses informasi selama krisis," tandasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: