43 orang siswa perguruan tinggi di kota Ayotzinapa, Guerrero Meksiko itu diketahui hilang pada malam tanggal 26 September 2014, menyusul bentrokan dengan polisi setempat di kota terdekat dari Iguala.
Mereka menghilang setelah dicegat oleh polisi yang dilaporkan telah diperintahkan oleh walikota. Perintah itu dilakukan untuk menghentikan langkah para siswa yang kerap berpartisipasi dalam protes terhadap istri sang walikota. Baik walikota maupun istrinya itu saat ini telah mendekam di balik jeruji besi.
Usai diculik dan tidak diketahui rimbangnya, bulan November 2015 Jaksa Agung Meksiko, Jesus Murillo Karam mengatakan bahwa para siswa tersebut telah tewas dibunuh dengan cara dibakar di tempat sampah di kota Cocula. Anggota geng yang melakukan tindakan itu telah mengakui hal tersebut.
Namun dalam penyelidikan, dari sampel DNA yang diambil di lokasi, hanya ada dua siswa yang DNA-nya sesuai.
Hal itulah yang mebuat Tim Antropologi Forensik Argentina (EAAF) ragu dengan temuan itu.
"Sejauh ini belum ditemukanbukti ilmiah untuk menghubungkan elemen di pembuangan sampah Cocula dengan siswa yang hilang," kata EAAF dalam sebuah pernyataan (Selasa, 9/2).
Tim mengatakan, dari lokasi kejadian, ditemukan sisa-sisa kerangka bakaran ditemukan setidaknya ada 19 orang. Namun hasil investigasi menemukan bahwa hampir dari semua yang ditemukan merupakan kelompok orang dengan usia yang lebih tua dari para siswa yang hilang tersebut.
[mel]
BERITA TERKAIT: