Thailand Tepis Laporan Pekerja Anak Untuk Ekspor Makanan Beku

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Rabu, 16 Desember 2015, 12:47 WIB
Thailand Tepis Laporan Pekerja Anak Untuk Ekspor Makanan Beku
ilustrasi/net
rmol news logo Asosiasi penjual makanan beku Thailand menepis laporan yang menyebut adanya penggunaan kerja paksa dan pekerja di bawah umur di sebuah pabrik untuk ekspor ke pasar Amerika Serikat.

Presiden asosiasi tersebut, Poj Aramwattananont menyebut bahwa pabrik udang di Samut Sakhon tidak lagi mempekerjakan anak-anak atau pekerja asing ilegal.

Sebelumnya, dikabarkan AFP (Rabu, 16/12), Uni Eropa mengeluarkan peringatan ke Thailand karena dinilai melakukan praktek penangkapan ikan ilegal. Sementara itu Amerika Serikat menempatkan Thailand dalam tingkat terendah terkait dengan perdagangan karena diduga memiliki masalah dalam hal tenaga kerja.

Media internasional ternama, Associated Press juga pernah menerbitkan laporan yang menyebut adanya penggunaan tenaga paksa dan tenaga kerja anak di salah satu pabrik makanan laut yang mengekspor produk beku ke Amerika Serikat.

Namun Poj menyebut bahwa Thailand telah melakukan banyak hal selama setahun terakhir untuk menyelesaikan masalah tenaga kerja tersebut, terutama di kalangan perusahaan perikanan besar dan sejumlah perusahaan terkait.

Poj juga meyakinkan pembeli internasional bahwa pemasok makanan laut di Thailand saat ini lebih terkelola dan tidak lagi menggunakan tenaga kerja ilegal atau tenaga paksa. Pasalnya, saat ini standar tenaga kerja serta inspeksi telah semakin diperketat. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA