Hal itu dilakukan setelah pemeriksaan bandara menemukan bahwa tiruan bahan peledak dan senjata bisa lolos dari pos pemeriksaan keamanan.
Dalam satu tes, screener bandara gagal mendeteksi adanya bom palsu dalam barang bawaan penumpang. Tes tersebut dilakukan pada sekitar 70 bandara di Amerika Serikat. Dari tes tersebut, hanya tiga bandara yang mampu mendeteksi senjata tersebut.
Johnson menyebut bahwa petugas keamanan bandara harus lebih dilatih dan perangkat scanning harus diuji ulang.
"Angka-angka dalam laporan-laporan ini tidak pernah terlihat baik di luar konteks, tetapi mereka adalah elemen penting dalam evolusi keamanan penerbangan kami," kata Johnson.
"Kami menanggapi temuan ini dengan sangat serius dalam upaya untuk menguji, mengukur, dan meningkatkan kemampuan teknik kami saat ancaman tengah berkembang," tandasnya seperti dimuat
BBC (2/6).
[mel]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: