Penyergapan itu merupakan bagian dari operasi yang dilancarkan pihak kepolisian India demi melawan penyelundupan manusia serta perbudakan anak.
Menurut keterangan wakil komisaris polisi Hyderabad selatan, V. Satyanarayana pada Jumat (30/1), sejumlah anak ditemukan dalam keadaan sakit, berat badan mengenaskan, ataupun dalam keadaan trauma.
"Mereka ditempatkan di kamar suram dengan ventilasi dan paparan gas berbahaya. Mereka memiliki penyakit kulit kronis dan kurang makan. Mereka trauma dan tampak terguncang," jelasnya seperti dimuat
Press TV.
Sementara itu, menurut keterangan dari sejumlah anak, mereka mengaku dipaksa bekerja hingga 16 jam sehari tanpa ada jeda. Mereka juga diperlakukan dengan buruk dan tidak jarang mengalami kekerasan. Mereka juga bahkan kerap tidak diberi makanan bila tidak mematuhi perintah sang majikan.
Operasi penggerebekkan itu juga dilakukan di sejumlah wilayah lainnya beberapa waktu lalu. Pekan lalu saja, operasi yang sama berhasil menyelamatkan sekitar 220 anak yang menjadi budak.
Sejauh ini, pihak kepolisian telah mengamankan 31 penjuan dan agen yang memperjual-belikan anak sebagai budak.
Menurut data pemerintah setempat, sekitar empat juta anak-anak India saat ini bekerja menjadi pembantu domestik di restoran ataupun pabrik. Namun demikian, para aktivis pemerhati anak memperkirakan bahwa jumlah tersebut jauh lebih besar.
Sementara itu, merujuk pada data dari Australian-based Walk Free Foundation, di dunia saat ini angka perbudakan hampir menjedaki 36 juta jiwa. India menjadi negara yang memiliki jumlah budak tertinggi yakni sekitar 14,3 juta jiwa.
[mel]
BERITA TERKAIT: