Ia diketahui merupakan seorang polisi lokal beragama Islam. Pria berusia 40 tahunan bernama Ahmed Merabet itu diketahui tengah berpatroli dengan seorang polisi wanita di sekitar wilayah tersebut ketika ia melihat Citroën hitam yang digunakan para pelaku penembakan untuk menuju
Charlie Hebdo dan berupaya menghadangnya.
Dalam sebuah rekaman video di lokasi kejadian yang menyebar secara online terlihat, dua orang pelaku penembakan yang mengenakan masker sambil menenteng AK-47 turun dari mobil menuju kantor
Charlie Hebdo. Salah seorang di antaranya tiba-tiba saja melepaskan tembakkan ke Ahmed di bagian pangkal paha dari jarak jauh hingga ia jatuh ke trotoar. Ahmed pun kemudian mengerang kesakitan. Namun, tak lama kemudian, pelaku kedua tanpa ampun langsung menembak Ahmed di bagian kepala dari jarak dekat hingga ia tewas seketika.
Sesaat setelah munculnya video penembakan sadis itu, masyarakat dunia melalui twitter selain mengangkat tagar,
#JeSuisCharlie atau Saya adalah Charlie yang merupakan slogan
Charlie Hebdo, juga mengangakat
#JeSuisAhmed. Hal itu merupakan bentuk simpati atas tewasnya Ahmed Merabet yang berupaya menghentikan aksi teror tersebut.
The Guardian pada Kamis (8/1) memuat catatan singkat tentang sosok Ahmed.
Ahmed yang telah menjalani profesi sebagai polisi sejak delapan tahun lalu itu diketahui baru saja memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang detektif.
Salah seorang rekannya, Rocco Contento menuturkan bahwa Ahmed yang keluarganya berasal dari Tunisia merupakan sosok yang tenang dan teliti. Ahmed sendiri belum menikah, namun telah memiliki kekasih.
Aksi penyerangan kantor redaksi
Charlie Hebdo itu diketahui menewaskan 10 orang jurnalis dan dua orang polisi. Selain Ahmed, seorang polisi lainnya yang tewas dalam kejadian adalah Franck Brinsolaro.
Pria berusia 48 tahun itu tewas di dalam kantor
Charlie Hebdo di mana ia bertanggung jawab untuk melindungi seorang editor, Stéphane Charbonnier yang juga tewas dalam penyerangan. Ia diketahui baru menikah dengan seorang wartawan yang mengelola surat kabar mingguan di Normandia, Ingrid.
Saudara kembar Brinsolaro, bernama Philippe yang juga merupakan seorang polisi di wilayah Marseille pada Kamis (8/1) menyebut bahwa semua orang Perancis harus bersatu mengutuk pembantaian tersebut.
Menanggapi tewasnya dua orang perwira polisi dalam tuganya itu, wakil sekretaris jenderal Unité SGP Police, Nicolas Comte menyebut rekan-rekannya amat tersentak dengan kejadian itu. Terlebih setelah adanya video amatir yang menunjukkan pembunuhan terhadap Ahmed.
Bunga dan pesan belasungkawa pun berdatangan dari masyarakat yang simpati di luar kantor polisi di mana Ahmed bertugas.
[mel]
BERITA TERKAIT: