Lukisan monokrom, selain menjadi poros besar dalam seni kontemporer negeri ginseng, juga merupakan poros dasae budaya Korea.
Melalui pengosongan secara material, pameran yang akan digelar di Galeri Nasional Jakarta itu diprogramkan untuk memperkenalkan kebudayaan cendikiawan Korea yang bisa dinilai sederhana namun menyimpan nilai keanggunan. Hal itu lah yang membuatnya berbeda dari kesenian minimalis Barat.
Ada sekitar 52 karya yang terdiri dari 47 lukisan dan 5 buah keramik milik 16 orang seniman Korea akan dipamerkan dalam acara tersebut.
Pameran itu sendiri diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia dan Galeri Nasional Indonesia beserta Korea Arts Management Service sebagai bagian dari "Program Bisnis Pusat Kebudayaan Asing" yang ditujukan untuk menempatkan diri sebagai salah satu poros dari budaya universal.
Ini bukan kali pertama pameran itu dilakukan, sebelumnya pameran serupa juga digelar di sejumlah negara seperti Tiongkok, Jerman, Hungaria dan negara lain di Eropa.
Pameran ini sendiri digelar dengan tujuan untuk menginterpretasikan kembali lukisan monokrom Korea terutama terfokus pada strukturalisasi permukaan datar, netralisasi, dan penyatuan materialitas dan lukisan.
Keenambelas seniman yang memamerkan karyanya dalam acara tersebut adalah Choi Myoung-Young, Chung Chang-Sup, Chung Sang-Hwa, Ha Chong-Hyun, Jang Seung-Taik, Kim Taek-Sang, Kim Yik-Yung, Kwon Dae-Sup, Kwon Young-Woo, Lee Gee-Jo, Lee Kang-Hyo, Min Byung-Hun, Moon Beom, Park Ki-Won, Wen Ping, dan Yun Hyong-Keun.
[mel]
BERITA TERKAIT: