Pasalnya, menurut mantan Menteri Urusan Politik di masa Presiden Roh Tae-woo, Park Cheol-un, Tiongkok memiliki kepentingan ekonomi di Korea Utara. Tiongkok telah menyewa tambang di Korea Utara dan sebuah pelabuhan untuk kepentingan ekonominya di negara tersebut. Bukan hanya itu, Tiongkok juga menggunakan sumber daya alam di Korea Utara dalam jangka waktu tertentu.
Karena itu, Tiongkok kemungkinan besar akan mengerahkan pasukannya di Korea Utara untuk melindungi kepentingan ekonominya bila suatu saat ada perubahan yang terjadi di negara tersebut.
Atas dasar itulah Park menilai, Tiongkok akan merasa tidak nyaman bila unifikasi dua Korea terwujud dalam waktu dekat ini karena kepentingan ekonominya di Korea Utara akan terganggu.
Senada dengan Park, seorang penasihat senior yang juga merupakan Kepala Center for Strategic and International Studies, Victor Cha menilai, unifikasi dua Korea bukan hanya proses yang melibatkan negara-negara tetangga, tapi juga institusi internasional lainnya di luar kawasan yang memiliki kepentingan dalam unifikasi tersebut.
"Unifikasi dua Korea merupakan hal yang sangat penting bagi lingkungan internasional saat ini. Sehingga dalam prosesnya tidak mungkin mengabaikan keterlibatan negara-negara di luar kawasan", ujarnya di Washington DC dikutip
Korea Kini.
Menurutnya, unifikasi dua Korea dalam skala yang lebih luas dapat dipandang sebagai langkah penting bagi komunitas keamanan di Asia yang akan melibatkan semua negara.
"Lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, Bank Pembangunan Asia dan lain-lain juga akan memiliki kepentingan," tandasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: