Dino Patti Djalal Ajak Patahkan Citra Negatif Afrika

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Rabu, 15 Oktober 2014, 12:17 WIB
Dino Patti Djalal Ajak Patahkan Citra Negatif Afrika
dino patti djalal/net
rmol news logo Afrika saat ini bukan lagi sebuah kawasan dengan kumpulan negara-negara terpuruk, melainkan telah mengalami banyak perubahan signifikan.

"Afrika berubah seperti bagaimana Indonesia berubah. Afrika melakukan banyak reformasi baik dalam segi politik ataupun ekonomi," kata Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal dalam International seminar on Africa Rising yang digelar di Nusantara Room Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (15/10).

Ia menyinggung soal hubungan Indonesia dengan Afrika yang telah dijalin cukup lama.

"Indonesia menemukan Afrika sudah lama. Salah satu indikatornya adalah ketika founding father kita menggelar konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 lalu," kata Dino yang mengenakan pakaian khas Afrika.

Sejak saat itu, sambungnya, semangat solidaritas bersama telah dibangun antara Indonesia dan negara-negara Afrika. Dino menilai, saat ini Indonesia harus kembali melihat Afrika namun dengan cara yang berbeda.

"Kita harus mengerti, Afrika saat ini berbeda dari Afrika puluhan tahun yang lalu," kata mantan duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat itu.

"Apa yang anda pikirkan tentang Afrika saat ini? kelaparan? kemiskinan? konflik? kekerasan? Mungkin anda terlalu banyak menonton film Holywood," sambung Dino disambut gelak tawa ratusan peserta yang datang dari kalangan akademisi, pebisnis, dan pekerja diplomatik sejumlah negara di Jakarta itu.

Ia juga menekankan soal perkembangan pesat perekonomian Afrika saat ini. Kata Dino, dari 10 fastest growing economy di dunia, sebagian besarnya berasal dari Afrika.

"Selain itu, ada tiga hal yang membuat saya sadar bahwa Afrika saat ini telah berubah," tutur Dino.

Pertama, sambungnya, adalah ketika ia mengetahui bahwa Rwanda yang lekat dengan peristiwa genosida dan konflik antara suku Hutu dan Tutsi saat ini telah dinobatkan sebagai one of the best reformer in the world. Di Rwanda telah dibangun pusat bisnis dan banyak investor yang berkenan menanamkan modal di dalamnya.

Kedua, jelas Dino, adalah ketika ia mengetahui bahwa Ethopia saat ini memiliki tingkat ekspor bunga yang besar. Padahal dulu negara tersebut dikenal sebagai negara dengan masalah kelaparan.

"Kemudian Ghana yang saat ini menjadi salah satu negara yang berhasil membangun demokrasi dan ekonomi yang kuat," ujar Dino.

"Banyak cerita dan potensi Afrika yang perlu kita perhatikan lebih lanjut," tandas Dino.

Dalam kesempatan itu turut hadir sejumlah duta besar negara-negara Afrika di antaranya adalah Nigeria, Sudan, Tunisia, dan Afrika Selatan, serta sejumlah pelaku bisnis Indonesia yang mengembangkan usaha ke Afrika seperti pimpinan Indorama dan Indofood.[wid]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA