Menurut utusan khusus PBB bagi Timur Tengah, Robert Serry, kesepakatan itu berisi soal pasokan material bangunan harus dijalankan segera tanpa adanya penundaan.
Ia sendiri menyebut, perjanjian yang juga disepakati oleh Israel dan Palestina itu memungkinkan pekerjaan mendirikan kembali bangunan yang hancur untuk segera dilaksanakan.
Diketahui, selain menyisakan lebih dari dua ribu korban jiwa, serangan yang dilancarkan oleh Israel ke Jalur Gaza sejak 8 juli hingga 27 Agustus lalu juga menghancurkan bangunan serta fasilitas publik di wilayah itu.
Serry mengaku bahwa ia menyaksikan sendiri betapa parahnya tingkat kerusakan infrastruktur, rumah sakit, sekolah, bahkan pemukiman di Gaza.
Kata Serry diperkirakan ada sekitar 18 ribu rumah yang rusak atau rata dengan tanah pasca serangan Israel. Sekitar 100 ribu warga Palestina sendiri kehilangan tempat tinggal. 65 ribu di antaranya masih bertahan di tempat pengungsian PBB, sedangkan yang lainnya mencari tempat berlindung yang lebih aman.
Ia sendiri mengaku khawatir dengan kondisi di Gaza mengingat gencatan senjata yang diinisiasi oleh Mesir masih rapuh dan masalah mendasar Israel-Palestina masih belum juga terselesaikan.
Serry menyebut, pihaknya mendesak pembukaan kembali titik persimpangan antara Israel dan Jalur Gaza sehingga pasokan konstruksi dapat didistribusikan.
"Krisis di Gaza masih jauh dari selesai dan jendela kesempatan untuk memenuhi kebutuhan kritis dan menstabilkan situasi pendek," ujarnya. dikutip
BBC.
[mel]
BERITA TERKAIT: