Hadapi Ancaman Ekstrimis, Ini Langkah Teranyar yang Diambil Inggris

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Selasa, 02 September 2014, 09:58 WIB
Hadapi Ancaman Ekstrimis, Ini Langkah Teranyar yang Diambil Inggris
david cameron/net
rmol news logo Perdana Menteri Inggris David Cameron mengumumkan langkah terbaru yang diambil negaranya untuk menghentikan dan mempersulit warga negaranya yang bergabung dengan kelompok militan di Timur Tengah.

Perlu diketahui, perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah, terutama konflik di Irak dan Suriah akibat ulah kelompok ekstrimis negara Islam (ISIS) membawa implikasi besar bagi keamanan Inggris. Pasalnya, ada sekitar 500 warga negara Inggris yang telah melakukan perjalanan ke Irak dan Suriah untuk bergabung dengan ISIS atau kelompok militan lainnya.

Salah satu kasus yang paling menjadi sorotan baru-baru ini adalah munculnya video pemenggalan wartawan Amerika Serikat James Foley oleh seorang militan ISIS yang berbicara dengan aksen British. Militan itu diduga kuat merupakan warga London yang bergabung dengan ISIS.

Dalam sebuah pernyataan kepada parlemen Inggris (Senin, 1/8), Cameron menekankan sejumlah langkah yang diambil untuk menindaklanjuti kasus terbaru yang berkembang itu.

Cameron menekankan dukungan Inggris atas operasi serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Kendati saat ini Inggris tidak bergabung dalam operasi itu, namun Cameron tidak menutup kemungkinan keterlibatan Inggris di masa depan.

Selain itu Cameron menyebut, pihaknya akan berupaya membentuk legislasi untuk memberikan kekuatan hukum bagi polisi agar dapat menyita paspor milik warga negara Inggris yang diduga atau dicurigai bergabung dengan kelompok ekstrimis. Pemerintah Inggris juga akan berupaya mencegah warga negaranya yang bergabung dengan kelompok ekstrimis untuk kembali ke Inggris.

Langkah lain yang juga diumumkan Cameron adalah warga negaranya yang diduga teroris akan diwajibkan untuk menjalani program deradikaliasasi. Selain itu maskapai penerbangan juga diharuskan menyerahkan informasi lebih lanjut soal penumpang yang melakukan perjalanan dari dan ke daerah konflik.

Cameron juga berupaya memberikan dasar hukum bagi pemantauan lebih ketat atas warga negaranya di dalam negeri yang diduga memiliki kaitan dengan kelompok ekstrimis.

"Mengikuti nilai-nilai Inggris bukan merupakan pilihan, itu adalah dukungan bagi semua yang hidup di wilayah in," katanya dikutip BBC.

"Kami akan mengakhiri ekstrimis ini dan kami akan menjamin jalan kami bagi generasi kehidupan selanjutnya," tandas Cameron. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US