Begitu hasil survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Korea dan Departemen Kesetaraan Gender dan Keluarga yang dipublikasikan
Yonhap pada Kamis (10/7).
Dalam survei tersebut ditemukan bahwa hanya sebesar 45,6 persen remaja perempuan berusia 9 hingga 24 tahun yang menyebut bahwa pernikahan adalah sesuatu hal yang harus dilakukan dalam hidup. Sementara sisanya menyebut bahwa pernikahan adalah soal pilihan hidup.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan remaja pria Korea Selatan dengan kategori usia yang sama. 62,9 persen remaja pria Korea Selatan menilai pernikahan adalah kebutuhan yang akan dilakukan suatu saat nanti.
Pandangan remaja Korea Selatan soal pernikahan itu dipengaruhi oleh sejumlah kekhawatiran. 32,9 persen remaja mengaku, pendidikan merupakan kekhawatiran utama dalam menikah. Sementara itu, 25,7 persen lainnya mengaku khawatir soal karir di masa depan bila menikah. Sedangkan 16,9 persen khawatir akan kesehatan serta perubahan fisik ketika menikah.
Dalam catatan pemerintah Korea Selatan sendiri ditemukan bahwa 19.5 persen dari penduduk Korea Selatan atau sekitar 9.830.000 merupakan remaja berusia 9 hingga 24 Rrasio remaja Korea Selatan itu menurun bila di bandingkan dengan tahun 1960 lalu di mana jumlah remaja di kategori usia tersebut lebih dari 30 persen.
Badan statistik nasional Korea Selatan memperkirakan bahwa rasio tersebut bisa jatuh di angka 11,4 persen pada tahun 2060 mendatang.
[mel]
BERITA TERKAIT: