Perjanjian tersebut merupakan momen yang penting bagi Ukraina, mengingat persoalan kerjasama tersebut sebelumnya pernah memicu perselisihan yang mengakibatkan terjadinya krisis yang terjadi hingga saat ini di negara bekas Uni Soviet tersebut.
Diketahui bahwa Presiden Ukraina terguling Viktor Yanukovych pada tahun lalu memilih untuk tidak menjalin kerjasama dengan Uni Eropa dan memilih bekerjasama dengan Rusia. Langkah tersebut kemudian menyebabkan protes di masyarakat pro-Uni Eropa Ukraina. Protes tersebut pada akhirnya memicu krisis politik yang menyebabkan Yanukovych lengser dari jabatannya.
Pasca lengsernya Yanukovych, muncul gerakan separatis pro-Rusia di wilayah timur Ukraina, tepatnya di Krimea yang menuntut untuk memisahkan diri dari wilayah Ukraina. Setelah Ukraina melepaskan diri dan dianeksasi oleh Rusia, gelombang separatisme pro-Rusia di timur Ukraina justru semakin membesar dan masih berlangsung hingga saat ini.
Poroshenko yang baru menduduki kursi presiden awal bulan ini menyebut, kesepakatan yang dijalin negaranya dengan Uni Eropa merupakan momen bersejarah dan bentuk penghargaan atas krisis berdarah yang dilalui Ukraina demi menjalin hubungan yang lebih erat dengan Eropa.
"(Perjanjian) bukan hanya soal politik dan ekonomi, ini adalah simbol keyakinan dan keinginan yang tak dapat dipecahkan," kata Poroshenko seperti dikabarkan
CNN.
Dalam penandatanganan perjanjian tersebut, Poroshenko juga membuat pernyataan sepihak yang menyebut bahwa Ukraina menggarisbawahi pilihan keanggotaanya bagi Uni Eropa di masa depan.
[mel]
BERITA TERKAIT: