"Sejauh ini yang saya ketahui tidak ada rencana (kudeta) sebelumnya," tegas Jenderal Senior Thailand, Chatchalerm Chalermsukh kepada
BBC (Kamis, 26/6).
Pernyataan itu dikeluarkannya untuk membantah pemimpin oposisi yang mengklaim bahwa militer telah lama membahas upaya penggulingan pemerintah selama bertahun-tahun.
"Bila direncanakan (kudeta) maka hal itu tidah sah. Bila anda bertanya mengapa kudeta terjadi begitu lancar, itu karena pasukan sudah dikerahkan di kota. Jadi ketika kita menyatakan darurat militer, sudah ada militer dan polisi pasukan gabungan yang ditempatkan di daerah," jelas jenderal yang menjabat wakil kepala Staf Angkatan Darat dan anggota dari Dewan Nasional untuk Ketentraman dan Ketertiban yang sekarang memerintah Thailand.
Lebih lanjut Chatchalerm menjelaskan bahwa ratusan orang demonstran, aktivis, politisi, serta akademisi ditangkap oleh militer pasca kudeta 22 Mei lalu diperlakukan dengan baik oleh pihaknya. Mereka tidak ditahan di tempat penahan.
"Mereka seperti tamu rumah," katanya.
"Tidak ada pagar kawat berduri, dan kami telah menunjukkan tempat-tempat ini kepada kelompok-kelompok hak asasi manusia. Kami bahkan menyiarkan foto-foto mereka di TV nasional," sambung Chatchalerm.
Diketahui militer yang dipimpin oleh Jenderal Prayuth Chan-ocha mengambil alih kekuasan di Thailand menyusul krisis politik yang terjadi sejak akhir tahun lalu.
Militer berjanji untuk mengembalikan pemerintahan ke tangan sipil apabila telah terbentuk reformasi sistem politik di negara tersebut.
[mel]
BERITA TERKAIT: