Di Rusia, Dubes RI Paparkan Potensi Ekonomi Indonesia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Senin, 26 Mei 2014, 17:30 WIB
Di Rusia, Dubes RI Paparkan Potensi Ekonomi Indonesia
KBRI Moscow
rmol news logo Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Belarus, Djauhari Oratmangun hadir dalam sesi plenary hari kedua penyelenggaraan St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) yang ke-18 (Jumat, 23/5).

Acara yang mengangkat tema "Sustaining Confidence in a World under Transformation" itu digelar pada 22-24 Mei 2014 atas kerjasama pemerintah Rusia dengan sejumlah perusahaan lokal maupun internasional seperti Gazprom, Rusal, Sberbank, Danone, Microsoft, dan Ernst & Young.

Seperti rilis KBRI Moscow yang diterima redaksi (Senin, 26/5), disebutkan bahwa dalam kesempatan tersebut Djauhari juga ikut berpartisipasi dalam debat yang diselenggarakan oleh CNN bersama dengan Menteri Keuangan dan Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia, CEO China Investment Cooperation, Partner the Abraaj Group dan General Director Sibur.

Diskusi yang dipandu oleh John Defterios itu mengangkat tema "Reviving the Growth Engines for Major Emerging Markets".

Djauhari menjelaskan, Indonesia merupakan salah satu negara emerging market yang kerap menjadi pembicaraan di ranah internasional. Ia juga meminta tanggapan mengenai kemungkinan investasi Rusia dan perusahaan investasi internasional untuk masuk ke pasar Indonesia dan ASEAN, terutama jelang ASEAN Economic Community 2015.

Indonesia saat ini, sambung Djauhari, menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia serta kawasan dan potensi ASEAN sangat besar dengan populasi total mencapai 600 juta dan GDP kurang lebih 3 triliun doalr AS, sehingga merupakan potensi pasar yang besar bagi investor Rusia dan masyarakat internasional.

Menanggapi hal itu, Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia menyebut bahwa pihaknya berkeinginan untuk berinvestasi di kawasan ASEAN, terlebih Indonesia. Pasalnya, Indonesia yang secara geografis terdiri dari sekitar 17 ribu pulau dinilai perlu dihubungkan dengan infrastruktur yang memadai.

Hal senada dituturkan oleh perwakilan Abraaj Group. Ia menyebut bahwa saat ini pasar ASEAN merupakan pasar besar belum menjadi perhatian internasional dan perlu dijajaki kemungkinan investasi di kawasan tersebut.

Dalam rangkaian SPIEF tersebut, juga terdapat partisipasi Ketua KADIN Suryo Bambang Sulisto pada Global CEO Summit yang membahas tantangan dan solusi dalam mengatasi hambatan bagi business driven growth.

Pada kesempatan itu, ia menyampaikan tantangan yang dihadapi terkait infrastruktur dalam pengembangan bisnis di Indonesia dan menekankan bahwa dunia internasional perlu melihat potensi Indonesia dan ASEAN yang saat ini tengah menuju komunitas ekonomi ASEAN.

Penyelenggaraan rangkaian acara SPIEF diwarnai dengan sejumlah pertanyaan terkait dampak sanksi terhadap bisnis dan investasi di Rusia dan membahas model bisnis baru guna mengarahkan lembaga atau institusi ekonomi, bisnis dan masyarakat sipil dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkesinambungan.

SPIEF menjadi wadah bagi para pelaku bisnis, pejabat publik, akademisi dan budayawan untuk berdiskusi dalam menentukan agenda global, khususnya dalam membangun tata kelola ekonomi dunia dan meningkatkan pemahaman terhadap sistem keuangan global. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA