Hal tersebut diungkapkan oleh perwakilan Rusia Vitaliy Churkin dalam sesi pembicaraan khusus yang digelar Dewan Keamanan PBB (Minggu, 13/4).
Churkin menyerukan agar Ukraina menggelar dialog murni dengan para pengunjuk rasa untuk mencari solusi bersama, daripada menggunakan ancaman kekerasan.
Namun perwakilan Ukraina Yuriy Sergeyev justru menuding bahwa krisis di timur Ukraina merupakan bentukan Rusia.
Beberapa waktu sebelum pertemuan khusus tersebut digelar, pemerintah Ukraina diketahui telah mengeluarkan peringatan agar pengunjuk rasa pro-Rusia yang melakukan aksi di sejumlah kota di timur Ukraina agar menyerahkan senjatanya dan meninggalkan gedung-gedung pemerintah yang telah diduduki sejak pekan lalu.
Pemerintah Ukriana memberikan batas waktu hingga Senin hari ini (14/4). Bila tidak, pemerintah Ukraina akan mengggunakan kekuatan militer untuk mengusir paksa pengunjuk rasa yang menyerukan untuk digelar referendum serupa seperti di Krimea.
Churkin menyebut bahwa tindakan tersebut justru melukai rakyat Ukraina itu sendiri.
"Para antek Maidan (gerakan protes) harus berhenti menyerang rakyatnya sendiri," kata Churkin seperti dikutip
BBC.
Ia juga menyatakan bahwa unjuk rasa tersebut muncul karena opini serta kepentingan para pengunjuk rasa di timur Ukraina tidak ditampung dengan baik oleh pemerintah.
[mel]
BERITA TERKAIT: