Bentrokan dipicu oleh aksi pemboikatan pemilu yang dilakukan oleh pihak oposisi. Pihak oposisi yang dipimpin Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) menginginkan PM Sheikh Hasina mundur dan menunjuk penjabat pemerintah yang netral untuk memantau jalannya pemilu. Namun, PM Hasina bersikeras untuk tetap menjabat sebagai Perdana Menteri. Oposisi akhirnya memboikot pemilu dengan melakukan mogok selama dua hari.
Akibatnya, lebih dari separuh konstituen tidak melakukan pemungutan suara. Lebih dari 100 tempat pemungutan suara (TPS) juga diamuk dan dibakar demonstran. Sebagian besar pengunjuk rasa dan pemboikot pemilu terlibat baku hantam dengan polisi. Polisi bahkan harus menggunakan senjata api untuk mengamankan jalannya pesta demokrasi itu.
"Tidak ada keluarga saya atau saya sendiri pergi untuk memberikan suara ditengah ketakutan dan kekerasan. Apa yang terjadi disini adalah pemilu satu partai dan 90 persen masyarakat Bangladesh menentangnya," ujar seorang penduduk di Gaibandha, sebagaimana dikutip
BBC (Minggu, 5/1).
Kondisi ini, membuat Partai Liga Awami yang dipimpin Perdana Menteri Sheikh Hasina memastikan kemenangan, begitu pun dengan kandidat pemerintah, meski warga yang menggunakan hak suara mereka sangat sedikit.
[ian]
BERITA TERKAIT: