Kepala AEOI Ali Akbar Salehi mengatakan bahwa fasilitas ini dijadwalkan akan diserahkan kepada kontraktor lokal pada 24 September mendatang. Ia berharap reaktor ini bisa berfungsi pada kapasitas 90 persen dan menghasilkan setidaknya 900 megawatt listrik selama periode dua minggu. Namun, Salehi menggarisbawahi, jika output turun di bawah level tersebut, instalasi ini harus kembali melewati masa percobaan lain.
Dia menyatakan bahwa PLTN Bushehr telah mengalami operasi uji coba yang berbeda selama dua tahun terakhir sejak injeksi bahan bakar ke dalam inti dimulai dan periode pengujian akhir akan rampung dalam kurun beberapa hari mendatang.
"Jika semuanya berjalan dengan baik, pembangkit listrik akan diserahkan kepada kontraktor Iran pada waktu yang dijadwalkan (24 September)," kata Salehi seperti dikutip
Press TV (Sabtu, 14/9).
Sementara itu, Iran dan Rusia telah meyakinkan masyarakat internasional bahwa instalasi ini sepenuhnya sesuai dengan standar keselamatan tingkat tinggi dan perlindungan IAEA. Meski di satu sisi, Amerika Serikat, rezim Israel, dan beberapa sekutunya telah berulang kali menuduh Iran mengejar tujuan non-sipil dalam program energi nuklirnya. Terlebih letak kota Bushehr ini terletak menghadap ke Teluk Persia atau jika ditarik garis ke barat akan berhadapan langsung dengan daratan Israel.
Iran menolak tuduhan itu, dengan alasan sebagai penandatangan berkomitmen untuk Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan anggota IAEA, Iran memiliki hak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
[ian]
BERITA TERKAIT: