Selain meminta maaf, Belanda memberikan sumbangan senilai 20 ribu euro atau sekitar Rp 620 juta kepada para janda korban Westerling. Meski korban Westerling berjumlah ribuan, namun Belanda hanya memberi santunan kepada 10 janda korban.
Namun, permintaan maaf tersebut tidak seluruhnya disambut baik. Keluarga korban pembantaian tentara yang dipinpin Raymond Pierre Paul Westerling itu, memprotes pemberian santunan yang hanya diberikan kepada 10 janda korban. Keluarga korban Westerling mengatakan, pemberian santunan tidak tepat jika hanya diberikan kepada janda korban, karena sebagian besar dari mereka sudah tiada.
Turut hadir dalam acara kemarin adalah perwakilan tiga keluarga korban pembantaian Westerling pada 1946-1947. Kebanyakan para janda itu tidak bisa datang karena faktor usia. Dalam kesempatan tersebut, pihak Kedubes Belanda melarang awak media mewawancarai perwakilan keluarga korban. Pihak Kedubes baru memberi izin wawancara dalam acara kunjungan Dubes de Zwaan ke Sulsel pekan depan.
“Kami mohon maaf, tidak boleh ada wawancara sekarang. Silakan wawancara saat kunjungan dubes pekan depan,†tegas salah satu staf kedutaan.
Dalam pidatonya, Dubes de Zwaan menegaskan, acara kemarin memang sengaja diadakan untuk menghormati para janda korban pembantaian para tentara Belanda di masa lampau.
“Kami juga ingin menunjukkan niat kami memperbaiki hubungan dengan Indonesia. Salah satunya, menyampaikan rasa bersalah kami kepada para janda korban Westerling,†ujar dubes de Zwan.
“Para korban secara langsung telah mengalami bagaimana hubungan antara Belanda dan Indonesia memburuk bertahun-tahun usai proklamasi Kemerdekaan Indonesia,†tambahnya.
“Atas semua keburukan yang telah Anda alami, saya menyampaikan permintaan maaf kepada para janda di Bulukumba, Pinrang, Polewali Mandar, dan Parepare,†lanjut Dubes de Zwaan.
Dia berharap, permintaan maaf dan biaya kompensasi yang diberikan pemerintah Negeri Tulip itu bisa dimanfaatkan oleh para janda dan keluarganya.
Niat meminta maaf ini sebenarnya sudah disampaikan oleh Perdana Menteri Belanda Mark Rutte pada 30 Agustus lalu. Saat itu, Belanda telah meminta maaf dan membayar kompensasi kepada keluarga korban orang-orang dalam kasus-kasus tertentu. Tetapi tidak pernah menyampaikan permintaan maaf dan menawarkan kompensasi bagi para korban eksekusi secara umum. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: