Pemerintahan Rusia Jadi Kerajaan Putin

Kaki Tangannya Kuasai Jabatan Penting

Selasa, 22 Mei 2012, 09:58 WIB
Pemerintahan Rusia Jadi Kerajaan Putin
Vladimir Putin

RMOL. Pemerintahan Rusia bakal menjadi kerajaan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pasalnya, Putin menempatkan “kaki tangannya” di sejumlah jabatan penting. Perdana Menteri Dmitry Medvedev akan diberi kerjaan dengan lingkup lebih kecil..

Medvedev (46) hanya akan di­tugaskan mengurusi kebijakan reformasi ekonomi. Yaitu, pro-pertumbuhan ekonomi dan me­ngurangi privatisasi yang mem­buat Rusia menghabiskan dana sebesar 1,7 miliar dolar AS (s­e­kitar Rp 15,9 triliun) untuk ba­han ba­kar minyak.

Namun, Medvedev, yang meng­­hadiri KTT G-8 di Camp David, Amerika Serikat, me­nam­pik ka­bar tersebut.

“Pemerintahan yang sekarang ini akan diperbaharui. Kami pu­nya rencana yang harus segera di­laksanakan. Semua siap dengan tugas di tangan,” ujar Medvedev kepada wartawan yang menge­ru­muninya setelah berdialog de­ngan Presiden AS Barack Obama.

Daftar kabinet Putin, antara lain Menteri Keuangan Anton Si­luanov tetap di posisinya. Ahli eko­nomi pro-Putin, Andrei Be­lousov, menjabat se­bagai menteri ekonomi. Semen­tara Igor Shu­va­lov tetap men­jadi Wa­kil PM pertama yang ber­tang­gung ja­wab atas kebi­jakan ekonomi.

Menteri Pertahanan Anatoly Serdyukov dan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov tetap di posisinya.

Kembalinya Putin ke Kremlin dibarengi dengan aksi protes terbesar sejak Putin memimpin 12 tahun. Pihak oposan menu­ding, Kremlin akan jadi keraja­an Putin. Rakyat Rusia serta pihak oposisi menye­but bahwa Putin sama sekali tidak akan mende­ngar saran rakyat.

“Mereka akan membuat peme­rintahan penuh dengan per­se­kongkolan. Ini sangat tidak baik bagi iklim politik saat ini,” ujar tokoh oposan Vladimir Frolov.

Menteri Ekonomi German Gref punya pendapat lain. Me­nurut dia, pemerintahan Putin pasti akan siap menstabilkan perekonomian Rusia. “Di kampa­nyenya Putin tam­pak siap mela­kukan perubahan. Putin siap, walau banyak yang meragukan hal tersebut,” ujar Gref.

Meski data terbaru menun­jukkan ekonomi Rusia naik 4,9 persen dalam kuartal pertama, kabar baik ini dirusak dengan pengeluaran besar-besaran pada kampanye yang mengakibatkan harga minyak meroket.

“Naiknya harga minyak akan segera dirasakan Rusia. Pe­me­rintah harus segera melakukan penyesuaian agar para investor masuk ke Rusia,” tambah Gref.

Putin yang lebih memilih tidak hadir di G-8, sudah me­nand­a­ta­ngani perintah untuk me­ngu­rangi mobil yang me­makai lam­pu biru yang biasa di­pakai peja­bat negara. Sebab, lam­pu itu bi­kin peng­guna jalan marah-ma­rah. Selain itu, dia berjanji akan menambah jum­lah lapangan pekerjaan di pe­ru­sahaan tank. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA