Keputusan untuk mengirim empat helikopter Apache ke Libya diputuskan langsung oleh Perdana Menteri Inggris, David Cameron, pada 27 Mei lalu. Langkah ini dilakukannya untuk mengurangi korban sipil seperti dalam operasi-operasi sebelumnya yang menggunakan Tornado dan pesawat tempur
Kapten kapal induk HMS Ocean yang menjadi pangkalan Apache melaporkan bahwa target yang diminta NATO telah dihancurkan. NATO akan terus menggunakan helikopter buatan Amerika Serikat itu jika dianggap perlu.
Selain Apache, NATO untuk pertama kalinya menggunakan helikopter buatan Perancis, Gazelle, untuk melakukan serangan lain di Libya. Pada hari Rabu (1/6) NATO telah memperpanjang 90 hari untuk menyelesaikan misinya di Libya.
"Kami akan terus menggunakan aset (helikopter) tersebut kapanpun dan di manapun jika dibutuhkan, dengan menggunakan ketelitian yang sama seperti yang kami lakukan dalam setiap misi," ujar Letnan Jenderal Charles Bouchard, Komandan Operasi Unified Protector, dikutip dari
BBC (Sabtu, 4/6).
Sebagian pakar pertahanan sebelumnya sudah mengingatkan bahwa keputusan untuk mengirim helikopter Apache memiliki konsekuensi jatuh korban lebih banyak di pihak NATO. Apache lebih mudah lakukan serangan, baik menggunakan roket granat atapun senjata, ketimbang pesawat jet yang selama ini telah digunakan untuk melakukan serangan udara.
[ald]
BERITA TERKAIT: