Menyesal Jajah Korea, PM Jepang Minta Maaf

Rabu, 11 Agustus 2010, 02:09 WIB
Menyesal Jajah Korea, PM Jepang Minta Maaf
RMOL. Jepang meminta maaf atas agresi 1910 hingga 1945 di Semenanjung Korea. Perdana Menteri (PM) Jepang Naoto Kan menyatakan penyesalan dari lubuk hati terdalam atas penderitaan yang diakibatkan selama invasi Jepang.

Permintaan maaf tersebut di­nyatakan menjelang peri­ngatan 100 tahun aneksasi di Korea yang jatuh pada 29 Agus­tus,  mengikuti perayaan ke­mer­dekaan Korea Selatan (Korsel) yang jatuh pada 15 Agustus.

“Pemerintah kolonial ber­ten­tangan dengan keinginan mereka. Sehingga hak rakyat Korea atas negeri dan budaya sendiri telah di­cabut. Ini sangat melukai harga diri mereka,” demikian per­nya­taan Kan yang dia bacakan dalam jumpa pers di kediaman dinasnya di Tokyo, kemarin. Permintaan maaf ini disetujui Partai Kan, De­mocratic Party of Japan/DPJ, dalam rapat kabinet kemarin.

“Di abad ke-21, Jepang dan Korsel adalah tetangga paling penting dan paling dekat. Saling berbagi demokrasi, kebebasan, ekonomi pasar, dan nilai-nilai lainnya. Kami berharap ikatan antara Jepang dan Korea Selatan akan semakin dalam dan kuat. Saya bertekad tidak menge­sam­pingkan tiap usaha membuka ma­sa depan kedua negara,” ujar Kan.

Kan menambahkan, dalam wak­­tu dekat Jepang akan me­nyerahkan artefak berharga asal Korea, yang terus diminta Korsel. Salah satu artefak ini adalah catatan kerajaan pada masa di­nasti Joseon.

Setelah menyampaikan per­nyataan, Kan melakukan pem­bicaraan telepon dengan Presiden Korsel Lee Myung-bak. Seoul pun menyambut baik langkah Jepang ini. Berharap permintaan maaf menandai awal era baru hu­bungan yang lebih dekat antara kedua negara.

“Kami berharap rakyat Jepang memiliki pandangan yang sama. Pernyataan PM Kan murni atas kehendak Jepang untuk menye­lesaikan masa lalu yang tidak menguntungkan antara Korea dan Jepang,” imbuh juru bicara Ke­menterian Luar Negeri Korsel Kim Young-Sun.

Dalam beberapa dekade ter­akhir, PM Jepang seringkali me­nyatakan penyesalan atas agresi Negara Sakura di Asia. Langkah ini dimulai pada 1995, melalui per­­nyataan PM Tomiichi Mura­yama. Bahkan, permintaan maaf pada 1995 yang menandai 50 ta­hun ber­akhirnya PD II, telah men­jadi si­kap resmi pemerintah Jepang.

Namun, beberapa negara Asia menganggap permintaan maaf ini tidak tulus. Karena beberapa anggota Majelis Rendah menolak mengakui agresi di masa lalu. Selama okupasi Jepang, banyak warga Korea dipaksa menjadi tentara garis depan, budak, atau bekerja di rumah bordil yang dijalankan militer.

Pekan lalu, Kepala Sekretaris Kabinet Yoshito Sengoku me­nga­takan, pemerintah seha­rus­nya mempertimbangakan kom­pen­sasi terhadap korban kolo­nia­lisme. Namun, komentar Se­ngo­ku menuai amarah poli­tikus kon­servatif.

Penjajahan Jepang di Korsel di­mulai setelah perjanjian anek­sasi yang ditandatangani 22 Agustus dan mulai berlaku pada 29 Agustus 1910. Aneksasi ber­akhir pada 15 Agustus 1945, se­telah Jepang me­nyerah kepada ten­tara sekutu pimpinan AS dalam Perang Dunia II. Namun karena persaingan antara AS dan Uni Soviet, Seme­nanjung Korea terbagi menjadi Utara yang ko­munis dan Selatan yang kapitalis.  [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA