Bertambahnya Jumlah Jemaah Haji Diharapkan Tidak Menambah Masalah
Laporan: Ruslan Tambak | Selasa, 04 Juli 2017, 08:56 WIB

. Penambahan jumlah jemaah haji Indonesia pada tahun 2017 ini diharapkan tidak diikuti dengan penambahan masalah terkait penyelenggaraan ibadah haji.
"Jemah haji tahun ini berjumlah 221 ribu orang. Ada tambahan sebanyak 52 ribu orang dari jumlah jemaah tiga tahun sebelumnya. Memang Kementerian Agama sudah berpengalaman menangani jemaah dengan jumlah tersebut, sebelum ada pengurangan jumlah quota haji Indonesia," kata Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid, Selasa (4/7).
Akan tetapi, Sodik mengingatkan, karena sampai tahun 2016 atau sebelum ada tambahan jemaah, masih ada beberapa masalah, maka Kemenag harus meningkatkan kinerja pengelolaan hajinya pada tahun ini.
"Sehingga bertambahnya jemaah tidak menambah masalah, bahkan misi peningkatan mutu pelayanan haji dapat terlaksana," ujar politisi Partai Gerindra itu.
Dijelaskan Sodik persiapan manajemen haji telah diputuskan dalam pembahasan dan penetapan BPIH (biaya perjalanan ibadah haji) yang merupakan tahapan perencanaan pengelolaan haji. Tahapan perencanaan ini harus ditindaklanjuti dengan pengorganisasian dan pelaksanaan yang tepat dan pengawasan yang ketat.
Dengan bertambahnya jumlah jemaah tahun ini serta berdasarkan evaluasi tahun lalu, menurut Sodik ada beberapa hal yang perlu diperhatikan lebih sungguh-sungguh oleh Kemenag.
Pertama adalah kesiapan jemaah. Sesempurna apapun fasilitas dan regulasi jika jemaah tidak disiapkan dengan baik, maka akan selalu menimbulkan masalah apalagi haji merupakan
extraordinary event. Maka manasik pola baru yang materi, metode dan frekuensi sudah ditambah, harus dilaksanakan dengan lebih baik agar membentuk jemaah yang lebih siap.
Selain kesiapan jemaah, juga perlu diperhatikan kesiapan petugas. Petugas kloter dan non kloter harus ditatar lebih baik lagi sesuai perencanaan dan anggaran yang telah ditetapkan dalam penetapan BPIH. Petugas yang prioritas adalah pemimpin langsung yakni ketua regu, ketua rombongan, petugas kesehatan, petugas perlindungan dan keamanan, pembimbing ibadah, petugas imigrasi, petugas fasum dan makanan.
Penanganan Visa, juga harus terus diperhatikan dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Proses pendaftaran, pembuatan paspor harus lebih akurat dan cepat agar proses visa juga lebih cepat. Sebagaimana diketahui tahun lalu ada data jamaah yang beda nama dalam paspor. Kasus yang menghebohkan tahun lalu adalah keterlambatan visa. Ia berharap hal seperti itu tidak terulang kembali.
Pengelompokan jemaah juga diperlukan dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Ia berharap agar jemaah suami istri, jemaah satu keluarga, jemaah satu KBIH, jemaah satu kota diupayakan untuk tidak terpisah. Mengingat tahun lalu banyak yang terpisah dan meresahkan.
Dilanjutkan Sodik, hal lain yang perlu mendapat perhatian khusus adalah terkait manajemen jadwal embarkasi dan keberangkatan. Rencanakan dan pastikan waktu di embarkasi dengan keberangkatan secara layak. Tahun lalu ada jemaah yang diembarkasi hanya 2-4 jam sehingga bagi jamaah lansia dan jemaah resti (resiko tinggi) cukup merepotkan.
Selain kelima hal tersebut, dipaparkannya, ada sepuluh hal lainnya yang turut menjadi perhatian Kemenag dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Seperti manajemen jamaah resti dan lansia. Hal ini untuk memastikan tenaga pendamping serta penanganan tindakan darurat. Prioritas pemeriksaan imigrasi (keluar dan masuk Arab Saudi) bagi jemaah lansia dan jamaah resti. Kesiapan maktab sesuai dengan nomor dan jumlah jemaah. Penjelasan tentang berbagai fasilitas dan cara penggunaan fasilitas di pesawat, maktab, fasilitas bis, fasilitas elektrik dan lain-lain. Kasus kebakaran, kasus jamaah yang tidak bisa gunakan bis dan lain-lain karena kurang mantabnya penjelasan waktu manasik dan waktu di maktab bisa dihindari.
Keberadaan dan penandaan fasilitas Indonesia yang eksklusif mencolok, misalnya dengan bendera, ukuran dan warna yang mudah diidentifikasi jemaah. Jumlah posko dan militansi petugas perlindungan dan keamanan khususnya pencari jemaah hilang harus ditingkatkan, baik di Mekah, Madinah terutama di Mina. Kualitas dan kuantitas fasilitas di ARMUNA terutama di Mina harus terus diperbaiki. Misalnya kualitas toilet dan kapasitas tenda agar jemaah tertampung dengan layak. Mengingat pernah ada kasus jemaah harus tidur miring karena tenda tidak cukup.
Sosialisasi, edukasi dan persuasi regulasi hari tarwiyah dan waktu jumroh harus terus dijelaskan dengan baik. Koordinasi yang maksimum antar petugas Kemenag dengan KBIH, antar petugas kloter dan non kloter, antara petugas Indonesia dengan maktab, dan lain-lain. agar penyelenggaraan dan pelayanan jemaah haji maksimum.
Tim Pengawas haji yang maksimum, detail dan tegas untuk semua urusan terutama untuk pengawasan mitra kerja dari pihak Arab Saudi seperti kualitas dan jumlah bus, kualitas dan jumlah fasilitas di maktab, kualitas dan jumlah katering, kualitas dan kapasitas tenda dan lain sebagainya.
"Dengan kelima belas item hal yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan pelayanannya tersebut sehingga tidak ada lagi kekhawatiran menurunnya pelayanan terkait penambahan jumlah jemaah haji pada tahun ini," demikian Sodik Mudjahid.
[rus]