Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah bergerak ke Rp17.889 per Dolar AS, menguat 10 poin atau 0,06 persen dari perdagangan sebelumnya.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan Rupiah terjadi setelah Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,2 persen pada 2026.
Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2026, Bank Dunia merevisi naik proyeksi pertumbuhan Indonesia sebesar 0,5 poin persentase, dari proyeksi sebelumnya 4,7 persen.
“Pertumbuhan Indonesia diproyeksikan tetap stabil sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Angka ini merupakan kenaikan 0,5 poin persentase pada proyeksi 2026, karena dampak kenaikan harga energi lebih ringan dari yang diperkirakan,” tulis Bank Dunia dalam laporan yang dirilis Selasa, 6 Oktober 2026.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh perkiraan dampak kenaikan harga energi yang lebih ringan terhadap perekonomian Indonesia dibandingkan perkiraan sebelumnya.
“Lonjakan pertumbuhan ini mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun,” kata Ibrahim.
Bank Dunia mencatat momen bulan Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program makan bergizi gratis berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal.
Meski demikian, Bank Dunia turut menyoroti bahwa aktivitas ekonomi domestik tampak melemah setelahnya, yang ditandai dengan turunnya indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur menjadi 49,3 pada bulan Agustus dan melesunya tingkat kepercayaan konsumen menjadi 116,8 pada bulan Juli.
Di sisi lain, pelebaran defisit juga memicu kekhawatiran pasar atas tren fiskal dan peringkat utang negara (sovereign ratings).
Sementara itu dari sisi eksternal, Ibrahim mengatakan sentimen Rupiah turut mendapat dukungan dari data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah.
Laporan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk Agustus tercatat di bawah ekspektasi pasar, sementara data sebelumnya juga direvisi turun.
Kondisi tersebut, ditambah data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah, dinilai mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 27-28 Oktober mendatang.
“Pasar menantikan rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September serta data klaim awal tunjangan pengangguran pada hari Kamis,” kata Ibrahim.

BERITA TERKAIT: