Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Saribua Siahaan, mengatakan pemerintah tidak menentukan lokasi yang harus dipilih investor. Pemerintah hanya memberikan gambaran mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing wilayah.
Menurutnya, investor yang memilih kawasan industri di Jawa Barat misalnya, harus mempertimbangkan harga lahan yang relatif lebih mahal. Namun, lokasi tersebut menawarkan kedekatan dengan Jakarta dan dukungan infrastruktur yang lebih baik.
Sementara Jawa Tengah menawarkan harga lahan dan biaya hidup yang lebih rendah, tetapi memiliki konsekuensi berupa akses yang relatif lebih jauh.
"Semua itu ada harganya. Tapi inilah konsekuensinya. Silakan Anda pilih mau di mana. Di sini ada plus-minusnya, di sana ada plus-minusnya, tapi yang jelas setiap daerah punya kelebihan tertentu," kata Saribua dalam UOB Media Editors Circle bertajuk "Reclaiming Global Trust: Indonesia's Investment Agenda for a Volatile World" di Jakarta, dikutip Rabu 16 September 2026.
Ia menambahkan, kalkulasi investor juga mencakup kondisi tenaga kerja hingga dukungan pemerintah daerah. Karena itu, daerah yang mampu memberikan kemudahan investasi diyakini lebih mudah menarik investor.
"Daerah-daerah yang sangat welcome terhadap investasi, percayalah orang akan datang ke sana," ujarnya.
Saribua mengatakan pemerintah juga memberikan penghargaan kepada daerah yang dinilai mampu memberikan kemudahan perizinan bagi pelaku usaha, baik investor asing maupun domestik.
"Kalau orang mudah dapat izin, maka daerah itu akan tumbuh dengan sendirinya," tegasnya.
Sejalan dengan itu, Head of Corporate Banking UOB Indonesia Edwin Kadir mengatakan perbankan berupaya menjadi mitra strategis investor, bukan sekadar penyedia pembiayaan.
UOB, kata Edwin, menyediakan layanan dari tahap awal eksplorasi investasi hingga investor menjalankan bisnis di Indonesia. Layanan tersebut antara lain mencakup koordinasi dengan BKPM, notaris, konsultan, kawasan industri, hingga konsultan pajak.
"Kami tidak hanya fokus kepada lending saja, ya, tapi kami ingin menyediakan servis end-to-end," kata Edwin.
Menurutnya, pendekatan tersebut juga ditopang jaringan UOB di kawasan ASEAN. Investor dari luar negeri yang ingin masuk ke Indonesia dapat memperoleh pendampingan sekaligus akses ke jaringan regional bank tersebut.
Edwin mencontohkan investor asal China yang berminat masuk ke sektor pertambangan dan hilirisasi. UOB dapat membantu investor memahami persyaratan investasi, memilih kawasan industri yang sesuai, hingga menyiapkan kebutuhan sumber daya manusia dan aspek perpajakan.
Edwin menilai minat investor terhadap Indonesia tetap besar karena ditopang fundamental ekonomi, pasar domestik yang luas, kekayaan sumber daya alam, serta pembangunan infrastruktur yang terus berlangsung.
"Indonesia, our fundamental is very strong. Kita marketnya besar sekali, sumber daya alam kita kaya sekali, infrastrukturnya juga sudah dibangun secara masif," ujarnya.
BERITA TERKAIT: