Sumatra menjadi salah satu penopang utama dengan kontribusi sekitar 17 persen. Ekspansi juga menjangkau Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, hingga Papua dan Maluku yang masing-masing telah mencatat kontribusi lebih dari 1 persen.
Secara kumulatif, pembiayaan Samir kini mencapai sekitar Rp8 triliun kepada sekitar 2 juta peminjam di berbagai wilayah Indonesia.
Perluasan tersebut berjalan beriringan dengan penguatan sumber pendanaan. Samir telah menggandeng 12 institutional lender melalui skema channeling, tiga di antaranya berasal dari sektor perbankan, yakni PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Super Bank Indonesia Tbk, dan PT Bank Sahabat Sampoerna.
Direktur Utama Samir Handy Juniandri mengatakan, kolaborasi dengan perbankan dan lembaga keuangan formal ditujukan untuk membangun ekosistem pendanaan yang stabil, efisien, dan berkelanjutan.
“Hingga saat ini, sudah ada sebanyak 12 institutional lender Samir di mana tiga di antaranya berasal dari sektor perbankan, yakni PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Super Bank Indonesia Tbk, dan PT Bank Sahabat Sampoerna,” jelas Handy di The Michael Resort, Bogor, Jumat 11 September 2026.
Menurut Handy, masuknya tiga mitra perbankan tersebut sekaligus mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap infrastruktur dan sistem mitigasi risiko yang diterapkan Samir.
“Kehadiran tiga institutional lender dari perbankan jelas semakin memperlihatkan kepercayaan dari korporasi terhadap infrastruktur dan mitigasi risiko yang diimplementasikan oleh Samir semakin kuat,” lanjutnya.
Ekspansi ini mendapat dukungan dari penyegaran jajaran manajemen. Melalui RUPS Agustus 2026, Handy Juniandri ditunjuk sebagai Direktur Utama menggantikan Yonathan Gautama yang kini menjadi Direktur Hukum dan Kepatuhan. Sementara Ettyta Ramadhani bergabung sebagai Komisaris.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari penguatan tata kelola sekaligus menopang agenda Samir memperluas akses pembiayaan ke berbagai daerah di Indonesia.
BERITA TERKAIT: