Gangguan jalur pasokan minyak di Timur Tengah membuat pasar kembali memasukkan premi risiko ke dalam harga.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 4 September 2026, harga minyak mentah Brent berada di angka 92,68 Dolar AS per barel, naik 76 sen atau 0,8 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berakhir di level 91,48 Dolar AS per barel, naik 18 sen atau 0,2 persen.
Jika dihitung sepanjang pekan, Brent melonjak 7,6 persen, sedangkan WTI naik hampir 10 persen. Kenaikan tersebut menjadi perhatian karena terjadi di tengah gangguan jalur pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran pasar tidak hanya tercermin pada harga minyak mentah. Harga solar eceran di AS bahkan mencapai rekor tertinggi, dengan rata-rata mencapai 5,85 dolar AS per galon, menurut data AAA.
Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap inflasi karena solar digunakan secara luas dalam aktivitas ekonomi, mulai dari transportasi hingga sektor pertanian. Kenaikan harga bahan bakar juga berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi berbagai komoditas.
Di pasar minyak, perhatian investor masih tertuju pada Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global. Arus kapal yang melintasi selat tersebut masih berada di bawah rata-rata.
Data awal menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis, dibandingkan rata-rata sekitar 15 kapal dalam 10 hari sebelumnya.
Kondisi ini membuat pasar tetap mewaspadai kemungkinan gangguan pasokan yang lebih besar apabila konflik AS-Iran kembali meningkat.
BERITA TERKAIT: