Koreksi besar tersebut dipicu oleh pernyataan Chairman Federal Reserve, Kevin Warsh, yang memberikan sinyal kuat bahwa bank sentral Amerika Serikat mungkin perlu kembali menaikkan suku bunga guna menjinakkan tekanan inflasi yang masih membayangi.
Emas spot tercatat bertahan di angka 4.455,29 Dolar AS per ons, usai menyentuh level terendahnya sejak 19 Agustus lalu. Di sisi lain, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman bulan Desember turut melemah sebesar 0,6 persen menjadi 4.504,90 Dolar AS per ons.
Pergerakan di pasar logam mulia lainnya menunjukkan variasi yang tipis. Harga perak spot terpantau stabil di posisi 66,34 Dolar AS per ons. Platinum mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,1 persen ke level 1.822,46 Dolar AS per ons, sedangkan paladium ikut menguat tipis 0,2 persen menjadi 1.424,89 Dolar AS per ons.
Warsh pada Jumat menegaskan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan rumah yang besar selama para pembuat kebijakan belum benar-benar yakin inflasi melandu menuju target 2 persen. Sinyal terbuka ini langsung mengubah peta ekspektasi di pasar keuangan.
Merujuk pada FedWatch Tool milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan September melompat tajam ke angka 57 persen, melonjak jauh dari posisi sebelumnya yang hanya 36 persen. Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi secara tradisional selalu menjadi musuh bagi emas, karena menaikkan biaya peluang bagi investor yang memegang aset tanpa imbal hasil.
Menghadapi pekan ini, para investor sudah bersiap memusatkan perhatian pada serangkaian data pasar tenaga kerja penting dari Amerika Serikat. Deretan data tersebut meliputi laporan ketenagakerjaan ADP, klaim pengangguran mingguan, angka lowongan pekerjaan, hingga data nonfarm payrolls yang dinanti-nanti. Kumpulan data ini bakal menjadi kompas utama bagi pasar untuk menerka langkah lanjutan The Fed setelah ekspektasi pengetatan moneter menguat.
BERITA TERKAIT: