Di akhir pekan ini, kontrak berjangka CPO terkerek naik 1,15 persen dan bertengger di posisi 5.018 ringgit Malaysia per ton.
Pencapaian ini memperpanjang tren penguatan mingguan untuk tiga kali berturut-turut, membawa harga CPO ke level tertingginya sejak Desember 2024.
Melansir data Trading Economics pada Sabtu 22 Agustus 2026, reli harga ini tertopang oleh tren positif minyak nabati di Bursa Dalian.
Sentimen kuat juga datang dari dalam negeri. Sebagai produsen CPO terbesar di dunia, permintaan domestik Indonesia diprediksi terus merangkak naik menjelang implementasi penuh program biodiesel B50 yang dijadwalkan bergulir pada Oktober 2026.
Di samping itu, ancaman fenomena El Nino turut memicu kekhawatiran pasar akan potensi cuaca kering yang bisa memangkas angka produksi sawit di Indonesia dan Malaysia.
Kendati sedang dalam tren menanjak, ruang penguatan harga CPO masih dibayangi sejumlah tantangan dari sisi pasokan dan permintaan alternatif. Pasokan minyak sawit Malaysia pada Juli 2026 lalu tercatat menumpuk hingga menyentuh level tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Sementara itu, dari sisi permintaan global, kilang minyak nabati di India berpotensi mulai beralih ke minyak kedelai yang harganya lebih miring. Angka impor minyak kedelai di India bahkan diproyeksikan bisa memecahkan rekor pada bulan Agustus ini.
Pelemahan daya serap pasar juga tercermin dari lesunya momentum ekspor CPO Malaysia baru-baru ini. Mengutip laporan Reuters, lembaga survei kargo Intertek Testing Services mencatat adanya kemerosotan pengiriman minyak sawit Malaysia sebesar 13,2 persen pada periode 1-20 Agustus dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
Searah dengan data tersebut, lembaga AmSpec Agri Malaysia juga menaksir adanya penurunan ekspor di angka 5,5 persen.
Meskipun diadang sentimen negatif dari pelemahan volume ekspor, prospek harga CPO Malaysia diyakini masih akan tetap kokoh di atas 4.600 ringgit Malaysia per ton pada September 2026 mendatang.
BERITA TERKAIT: