Para investor saat ini bersikap hati-hati sambil menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat, yang diperkirakan bakal menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).
Emas spot turun 0,3 persen menjadi 4.376,31 Dolar AS per ons. Sebelumnya, emas spot sempat melonjak ke level 4.434,84 Dolar AS per ons, angka tertinggi sejak 5 Juni, sekaligus menguji batas pergerakan rata-rata 100 hari (moving average) di posisi 4.387,92 Dolar AS.
Emas berjangka AS Untuk kontrak pengiriman Desember justru ditutup menguat 0,5 persen ke level 4.441,10 Dolar AS per ons.
Data CPI AS yang akan dirilis Rabu serta Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis diprediksi menjadi acuan utama kebijakan moneter.
Pekan lalu, laporan data tenaga kerja AS bulan Juli yang cenderung melemah telah meredam spekulasi kenaikan suku bunga bulan depan, sehingga sempat melambungkan harga emas hingga 2,4 persen dalam sehari.
Kalkulasi FedWatch Tool milik CME Group menunjukkan bahwa pelaku pasar masih melihat adanya peluang kenaikan suku bunga sebesar 50 persen pada September dan 79 persen pada Desember.
Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, menyampaikan pada Senin bahwa saat ini merupakan momen yang pas untuk mulai menaikkan suku bunga secara bertahap. Langkah ini dinilai perlu guna menghindari lonjakan suku bunga yang lebih drastis di kemudian hari. Secara umum, tren suku bunga tinggi dapat menekan daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil (yield).
Dari panggung geopolitik, Presiden AS Donald Trump merespons tuntutan kesepakatan damai dari Iran dengan mengajukan syarat balasan, termasuk ganti rugi atas korban perang, serangan, dan aksi protes. Ketegangan ini turut menahan harga minyak di kisaran level tertingginya dalam sepekan.
Sementara itu, pergerakan harga logam mulia lainnya tercatat merosot. Perak spot melemah 1,4 persen ke posisi 64,80 Dolar AS per ons.
Platinum juga ditutup turun 0,7 persen menjadi 1.740,37 Dolar AS per ons. Sedangkan paladium terkoreksi 1,3 persen ke level 1.365,60 Dolar AS per ons.
BERITA TERKAIT: