Demikian disampaikan Koordinator Nasional Generasi Pemuda Presisi Nusantara (GPPN) Nasky Putra Tandjung dalam kegiatan Ngopi Presisi bertema "Menatap Masa Depan Polri: Refleksi atas Kiprah, Transformasi, dan Warisan Kepemimpinan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo bagi NKRI" di sebuah kafe di Jakarta, Minggu 4 Oktober 2026.
“Kita ingin membangun tradisi demokrasi yang sehat. Mengapresiasi ketika ada capaian, memberikan kritik ketika ada kekurangan, dan menawarkan gagasan ketika ada ruang perbaikan," kata Nasky.
Nasky menilai salah satu aspek penting dalam merefleksikan kepemimpinan Listyo Sigit Prabowo adalah proses transformasi institusi serta upaya memperkuat hubungan Polri dengan masyarakat.
Menurut Nasky, kepercayaan publik merupakan salah satu indikator penting dalam melihat perjalanan reformasi institusi kepolisian.
Dalam forum tersebut, Nasky merujuk pada hasil survei Litbang Kompas yang dilakukan pada 9-18 April 2026 terhadap 1.200 responden di 38 provinsi.
Survei tersebut mencatat 82,4 persen responden menyatakan yakin kinerja Polri akan semakin baik, sementara citra kelembagaan Polri tercatat sebesar 71,5 persen.
“Kepercayaan publik tidak lahir hanya dari penegakan hukum, tetapi juga dari kualitas pelayanan, kemampuan institusi merespons kritik, keterbukaan, serta keberanian melakukan evaluasi dan pembenahan internal,” kata Nasky.
Nasky juga menilai sejumlah agenda transformasi pada era Presisi antara lain mencakup digitalisasi pelayanan publik, modernisasi sistem pelayanan dan penegakan hukum, penguatan pendekatan
restorative justice, serta evaluasi internal di berbagai tingkatan organisasi.
Nasky menegaskan bahwa transformasi digital perlu terus diarahkan agar pelayanan kepolisian semakin cepat, transparan, mudah diakses, dan memberikan kepastian kepada masyarakat.
“
Legacy yang penting bukan hanya apa yang telah dilakukan, tetapi bagaimana kebijakan dan inovasi tersebut dapat diteruskan, dievaluasi, dan disempurnakan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Nasky.
BERITA TERKAIT: