Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan, keputusan menaikkan BI Rate diambil di tengah tingginya ketidakpastian global, yang membuat harga minyak dunia melonjak serta menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.
"Pada saat 2 bulan periode tersebut kondisi global itu sangat volatile. Kemudian juga kita melihat ekspektasi bahwa Fed Fund rate itu akan naik lebih cepat dibandingkan perkiraan awal. Kemudian juga harga minyak pada saat itu pas tinggi-tingginya. Dan tekanan kepada Rupiah juga pada saat itu lagi tinggi-tingginya," kata Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, dikutip Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurut Destry, penyesuaian BI Rate dirancang untuk meningkatkan daya tarik aset berdenominasi Rupiah melalui imbal hasil yang lebih kompetitif. Langkah tersebut dinilai efektif menjaga kepercayaan investor di tengah gejolak global.
Ia menegaskan, kebijakan moneter yang lebih ketat tidak menghambat fungsi intermediasi perbankan. Hal itu terlihat dari pertumbuhan kredit yang masih berada di atas 12 persen secara tahunan pada Juni 2026.
"Di bulan Juni kemarin tumbuh di atas 12 persen. Sementara pada saat yang sama kita menghadapi tekanan di stabilitas kita. Yaitu khususnya untuk Rupiah dan juga untuk inflasi yang trendnya kemarin naik di volatile food," ungkapnya.
Selain menjaga stabilitas, kenaikan BI Rate juga berdampak pada derasnya aliran modal asing ke pasar domestik. Sepanjang kuartal II 2026, BI mencatat capital inflow sekitar 8,5 miliar Dolar AS hingga 9 miliar Dolar AS yang sebagian besar mengalir ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Inflow masuk ke memang saat ini baru di SBN dan SRBI. Sehingga di kuartal 2 kenaikannya cukup signifikan. Sehingga in total sudah terjadi inflow sekitar 8,5 sampai 9 miliar Dolar AS," tuturnya.
Dari sisi inflasi, BI juga mencatat perbaikan. Inflasi komponen bergejolak (volatile food) turun dari lebih dari 5 persen menjadi sekitar 2,5 persen. Sementara inflasi inti tetap terjaga di level 2,76 persen.
Adapun inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 2,88 persen, lebih rendah dibandingkan kisaran 3 persen pada bulan sebelumnya. Menurut Destry, kondisi tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi tetap berjalan sehat tanpa memicu tekanan inflasi yang berlebihan.
"Jadi artinya pergerakan ekonomi yang terjadi itu tidak mendorong overheating atau tidak mendorong ekonomi secara keseluruhan naik. Jadi itu dampak kita bisa lihat stabilitas bisa terjaga sehingga kalau kita lihat juga pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir ini cukup terkendali," tandasnya.
BERITA TERKAIT: