Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di awal pekan, indeks pan-Eropa STOXX 600 tergelincir 0,65 persen ke level 646,29. Aksi jual massal di sektor teknologi global menjadi pemicu utama kejatuhan ini.
Kekhawatiran bahwa euforia kecerdasan buatan (AI) mulai jenuh memukul telak saham-saham semikonduktor, memicu keraguan pasar apakah pertumbuhan pendapatan tinggi tersebut bisa bertahan jika hambatan pasokan mulai mengurai.
Di saat yang sama, ketegangan geopolitik baru di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia, yang membangkitkan kembali kecemasan inflasi dan mengerek imbal hasil obligasi. Sentimen ini, bersamaan dengan dicermatinya KTT NATO oleh para investor untuk memetakan potensi belanja pertahanan baru, membelah arah pergerakan pasar secara kontras antara Eropa daratan dan Inggris.
Bursa Jerman menjadi yang paling terpukul dengan indeks DAX 40 merosot sekitar 1,4 persen ke level 25.465, sekaligus menghentikan tren penguatan selama lima hari berturut-turut.
Saham semikonduktor menjadi penekan utama, dengan Infineon Technologies anjlok 7,9 persen, disusul Siemens Energy yang jatuh 7,7 persen setelah mendapat penurunan peringkat dari Barclays.
Di Prancis, indeks CAC 40 melemah 0,5 persen ke 8.436. STMicroelectronics merosot 8 persen mengikuti aksi jual global, sementara Schneider Electric dan Safran ikut tertekan. Pelemahan sempat tertahan oleh penguatan saham barang mewah seperti L'Oréal, LVMH, dan Hermès, serta kenaikan TotalEnergies yang diuntungkan lonjakan harga minyak.
Berbeda dengan bursa Eropa daratan, indeks FTSE 100 Inggris justru naik 0,3 persen ke level tertinggi dalam empat bulan. Penguatan ditopang reli saham energi, dengan Shell melonjak 3,8 persen dan BP naik 1,7 persen seiring prospek bisnis energi yang membaik.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: