Harga Minyak Dunia Stabil, OPEC+ Tambah Produksi 188 Ribu Barel per Hari Mulai Agustus

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 06 Juli 2026, 09:22 WIB
Harga Minyak Dunia Stabil, OPEC+ Tambah Produksi 188 Ribu Barel per Hari Mulai Agustus
Ilustrasi (Artificial Inteligence)
rmol news logo Harga minyak dunia masih bertahan di kisaran sebelum pecahnya konflik di Timur Tengah setelah aliansi produsen minyak OPEC+ kembali memutuskan untuk meningkatkan produksi. 

Langkah ini diambil seiring pulihnya pasokan minyak global dan normalnya kembali ekspor melalui Selat Hormuz.

OPEC+ mengumumkan akan menaikkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus 2026. Ini menjadi kenaikan produksi untuk tiga bulan berturut-turut sebagai bagian dari upaya bertahap mengakhiri pemangkasan produksi yang diberlakukan sejak 2023.

Dalam pernyataan resminya, OPEC+ menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah tujuh negara utama anggota aliansi, termasuk Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman, meninjau kondisi serta prospek pasar minyak global.

"Dalam komitmen kolektif untuk mendukung stabilitas pasar minyak, tujuh negara peserta memutuskan untuk menerapkan penyesuaian produksi sebesar 188 ribu barel per hari mulai Agustus 2026," demikian bunyi pernyataan OPEC+, dikutip Senin, 6 Juli 2026.

Peningkatan produksi dilakukan karena kekhawatiran terhadap kekurangan pasokan minyak dunia mulai mereda. Salah satu faktor utamanya adalah pulihnya ekspor minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Jalur tersebut sempat terganggu akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, tetapi kini telah kembali beroperasi.

Selain itu, nota kesepahaman yang dimediasi AS antara Washington dan Teheran turut membantu menenangkan pasar. Kesepakatan tersebut meningkatkan keyakinan pelaku pasar bahwa pasokan minyak global akan terus kembali normal.

Pada perdagangan Jumat, harga minyak mentah Brent berada di sekitar 72 Dolar AS per barel. Harga ini turun jauh dibandingkan puncaknya yang sempat melampaui 120 Dolar AS per barel saat konflik memanas, sehingga kini kembali mendekati level sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari.

Meski demikian, harga minyak masih mendapat tekanan dari lemahnya permintaan minyak mentah di China, meningkatnya produksi dari negara-negara di luar Timur Tengah, serta pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi oleh International Energy Agency (IEA).

Sejak April, tujuh negara utama OPEC+ telah mengembalikan hampir 800.000 barel per hari produksi yang sebelumnya dipangkas. Namun, produksi riil masih belum sepenuhnya kembali ke tingkat sebelum konflik karena gangguan ekspor dari kawasan Teluk sempat mengurangi pengiriman minyak dari sejumlah produsen utama.

OPEC+ juga menegaskan bahwa kebijakan produksi ke depan akan tetap fleksibel. 

"Negara-negara tersebut akan terus memantau dan menilai kondisi pasar dengan cermat, serta mempertahankan fleksibilitas penuh untuk meningkatkan, menunda, atau membalikkan penghapusan penyesuaian produksi sukarela," tulis OPEC+ dalam pernyataannya.

Para investor kini akan mencermati apakah pemulihan ekspor minyak, perkembangan permintaan global, dan keputusan OPEC+ pada pertemuan berikutnya 2 Agustus nanti mampu menjaga keseimbangan pasar minyak hingga akhir tahun. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA