"Satu isu penting yang harus diperhatikan itu adalah kemungkinan mengenai risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari kelemahan rupiah," ungkap Anggota DEN, Chatib Basri usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.
Lebih lanjut, Chatib menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik dan pelaku ekonomi melalui kebijakan efisiensi anggaran serta optimalisasi program prioritas pemerintah.
"Termasuk juga untuk menumbuhkan masalah confidence, masalah trust kepada pemerintah. Salah satunya adalah langkah-langkah yang dilakukan di dalam efisiensi anggaran, termasuk salah satu di antaranya di dalam kaitan dengan MBG," ujarnya.
Sementara itu, anggota DEN Firman Hidayat menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi kuat.
Dia menyebut sejumlah indikator makro menunjukkan ketahanan ekonomi nasional yang lebih baik dibandingkan periode krisis sebelumnya.
"Selain dari indikator-indikator makro seperti pertumbuhan yang masih tinggi, inflasi yang masih stabil, salah satu yang kami highlight adalah neraca korporasi yang dalam posisi yang sangat sehat," ujar Firman.
Meski demikian, DEN tetap mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap dinamika global yang masih penuh ketidakpastian, termasuk dampak konflik internasional yang berkepanjangan serta tekanan nilai tukar rupiah.
"Memang kita perlu waspada terhadap ketidakpastian ekonomi global. Dampak perang ini sepertinya lebih tinggi, lebih lama dari perkiraan kita. Kemudian ada faktor pelemahan rupiah," tuturnya.
Selain menjaga stabilitas makro, DEN juga mendorong penguatan sektor eksternal melalui peningkatan remitansi pekerja migran terampil serta optimalisasi kunjungan wisatawan mancanegara guna memperkuat cadangan devisa.
"Kalau kita bisa meningkatkan wisman lebih tinggi dalam waktu ke depan ini, ini tentu akan bisa membantu meningkatkan devisa kita," tutur Firman.
BERITA TERKAIT: