Dikutip dari
CNBC International, hampir seluruh indeks utama bergerak di zona merah. Bursa Jepang menjadi salah satu yang paling tertekan, dengan indeks Nikkei 225 turun 0,88 persen, sementara indeks Topix melemah 0,75 persen. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar global dan kenaikan biaya pinjaman.
Pasar saham Korea Selatan juga ikut terkoreksi. Indeks Kospi turun 0,52 persen, sedangkan indeks saham teknologi dan perusahaan kecil Kosdaq merosot lebih dalam hingga 2,15 persen.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 melemah sekitar 0,5 persen akibat tekanan pada sektor tambang dan keuangan. Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong menunjukkan pembukaan yang lebih rendah dibanding posisi penutupan sebelumnya, menandakan sentimen investor masih cenderung negatif.
Tekanan di pasar Asia dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, terutama tenor 30 tahun yang sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007. Investor terus melepas obligasi karena khawatir inflasi kembali meningkat, sehingga mendorong kenaikan imbal hasil.
Kenaikan imbal hasil obligasi biasanya membuat investor mengurangi minat terhadap aset berisiko seperti saham. Kondisi ini juga memicu kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Selain faktor obligasi, pelaku pasar juga mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran. Ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu pasokan energi dunia dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Sentimen pasar memburuk setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya sempat “hanya satu jam lagi” dari keputusan menyerang Iran sebelum akhirnya menunda rencana tersebut selama beberapa hari.
BERITA TERKAIT: