Sentimen negatif ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang merespons eskalasi ancaman militer Amerika Serikat terhadap infrastruktur energi Iran.
Presiden AS Donald Trump memperkeras posisinya dengan mengeluarkan peringatan keras: AS siap menghancurkan fasilitas pembangkit listrik, sumur minyak, hingga Pulau Kharg milik Iran jika kesepakatan damai gagal dicapai dan Selat Hormuz tetap ditutup.
Laporan menyebutkan bahwa pemerintahan Trump bahkan tengah mempertimbangkan pengiriman pasukan darat untuk merebut Pulau Kharg, titik vital yang memfasilitasi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran. Ancaman ini langsung mengguncang pasar energi
Kenaikan harga energi memberikan tekanan variatif pada bursa-bursa utama di Asia pagi ini.
Di Korea Selatan, Kospi menjadi yang paling tertekan, anjlok 2,4 persen ke level 5.148,05, sementara Kosdaq melorot 0,77 persen.
Indeks Nikkei 225 Jepang juga merosot 0,85 persen ke posisi 51.444,7 diikuti pelemahan Topix sebesar 0,57 persen.
Di Australia, indeks ASX 200 sempat dibuka melemah 0,12 persen, namun berhasil berbalik naik (rebound) 0,35 persen ke level 8.491 pada pukul 08:15 WIB.
Di Hong Kong, kontrak berjangka indeks Hang Seng tercatat berada di posisi 24.683, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak fluktuatif (variatif) hari ini, setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup turun tipis 0,07 persen di level 7.091,67.
Di sisi lain, harga ETF saham Indonesia di New York (EIDO) justru mencatatkan kenaikan tipis 0,45 persen menjadi 15,46 Dolar AS.
Secara teknikal, para analis memperkirakan IHSG masih akan dibayangi oleh tekanan depresiasi rupiah serta aksi jual oleh investor asing.
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap defensif dan berhati-hati. IHSG diproyeksikan bergerak dalam rentang level 7.000 hingga 7.200, dengan indikator MACD yang menunjukkan tren pergerakan mendatar (sideways).
BERITA TERKAIT: