Selain memantau rilis data neraca perdagangan Jepang, fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada pengumuman kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Dikutip Dari Reuters, di Korea Selatan indeks Kospi melesat hingga 2,8 persen, sementara Kosdaq (kapitalisasi kecil) turut terangkat 1,66 persen.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 tumbuh 1,38 persen dan Topix naik 0,95 persen. Penguatan ini didukung oleh performa ekspor Februari yang naik 4,2 persen (yoy), jauh di atas prediksi Reuters sebesar 1,6 persen.
Di Australia, S&P/ASX 200 cenderung stabil di zona netral, sedangkan di Hong Kong, kontrak berjangka Hang Seng Index menguat tipis ke posisi 25.891.
Optimisme di Asia mengekor jejak Wall Street yang menutup perdagangan Selasa di zona hijau. Indeks S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing mencatatkan kenaikan 0,3 persen dan 0,5 persen.
Di pasar surat utang, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun terpangkas menjadi 4,2 persen. Penurunan sekitar dua basis poin ini memberi sinyal bahwa kecemasan terhadap inflasi mulai mendingin, meski harga minyak Brent masih tertahan di level 103 Dolar AS per barel.
Meski pasar menguat, risiko tetap membayangi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan terhadap infrastruktur energi di Uni Emirat Arab serta insiden tanker di Selat Hormuz memicu kekhawatiran atas stabilitas suplai energi dunia.
Di mata analis, pasar mulai mencoba mengabaikan ketegangan geopolitik dalam jangka pendek.
"Namun, jika konflik berkepanjangan, dampaknya dapat kembali menekan pasar saham global," ujar Fawad Razaqzada, Analis Pasar dari Forex.
Para investor memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga di level 3,5 persen hingga 3,75 persen. Namun, sentimen pasar ke depan akan sangat bergantung pada arah komunikasi bank sentral tersebut.
Pada sektor lain, harga emas terpantau stabil di atas level 5.000 Dolar AS per ons. Sementara itu, Bitcoin tetap kokoh di kisaran 75.000 Dolar AS, mendekati performa tertingginya dalam satu bulan terakhir.
BERITA TERKAIT: