Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah jenis Brent naik sekitar 2,01 Dolar AS atau 1,95 persen menjadi 105,15 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 1,61 Dolar AS atau 1,63 persen menjadi 100,32 Dolar AS per barel.
Sepanjang bulan ini saja, harga minyak sudah melonjak lebih dari 40 persen dan mencapai level tertinggi sejak 2022.
Harga minyak semakin melonjak sejak Iran menutup Selat Hormuz. Situasi memburuk setelah Presiden AS Donald Trump mengancam menyerang Pulau Kharg (pusat 90 persen ekspor Iran). Sebagai balasan, drone Iran sempat menyerang terminal minyak Fujairah di UEA yang mengelola 1 perseb permintaan dunia.
Menanggapi krisis ini, IEA mengambil langkah drastis dengan melepas 400 juta barel cadangan darurat, rekor terbesar dalam sejarah, guna menekan harga. Di sisi lain, AS berencana membentuk koalisi militer untuk mengawal Selat Hormuz.
Meski jalur diplomasi masih buntu, Menteri Energi AS Chris Wright tetap optimis.
"Perang dengan Iran bisa berakhir dalam beberapa minggu ke depan. Jika itu terjadi, pasokan minyak diharapkan kembali normal dan harga energi akan turun Kembali," katanya.
BERITA TERKAIT: