Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Purbaya mengatakan dampak perang terhadap pergerakan rupiah relatif kecil. Ia menyebut depresiasi yang terjadi hanya sekitar 0,3 persen setelah konflik memanas.
“Kalau kita lihat dinamika global memang gonjang-ganjing mengganggu semuanya. Ada yang bilang rupiah hancur. Tapi kalau dikatakan betul pak itu setiap perang rupiah hanya terdepresi sebesar 0,3 persen,” kata Purbaya dalam Sidang Kabinet di di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat, 13 Maret 2026.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan fundamental rupiah masih cukup kuat meski tekanan geopolitik global meningkat.
Purbaya bahkan menyinggung pihak yang kerap menilai rupiah dalam kondisi buruk kemungkinan bukan pelaku pasar yang benar-benar memiliki dana besar.
“Jadi sebetulnya bagus daya tahanan kita, yang real, yang pemain yang punya duit betul bilangnya seperti ini. Tapi yang nggak punya duit kali pak yang jelek-jelekin, pak,” selorohnya.
Untuk diketahui, berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat tertekan ke level Rp17.009 per dolar AS pada perdagangan Senin 9 Maret 2026. Kurs tersebut menjadi yang terendah sejak krisis 1998.
BERITA TERKAIT: