Capaian tersebut ditopang pertumbuhan pendapatan bunga di tengah pengetatan likuiditas perbankan.
Mengutip laporan keuangan perseroan pada Kamis 26 Februari 2026 di sepanjang tahun lalu, pendapatan bunga BRI tercatat Rp207,78 triliun atau naik 4,27 persen secara tahunan (year on year/yoy). Di sisi lain, beban bunga meningkat tipis 1,2 persen yoy menjadi Rp57,28 triliun.
Kenaikan tersebut mendorong pendapatan bunga bersih serta pendapatan jasa asuransi tumbuh 5,54 persen yoy menjadi Rp151,8 triliun.
Dari sisi intermediasi, kredit BRI secara konsolidasi mencapai Rp1.521,49 triliun pada akhir 2025, atau tumbuh 12,31 persen yoy. Total aset perseroan ikut terdongkrak 7,2 persen menjadi Rp2.135,37 triliun.
Namun demikian, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) menunjukkan kenaikan. NPL gross tercatat 3,29 persen, sementara NPL net berada di level 0,96 persen.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.466,84 triliun hingga akhir tahun. Sementara, komposisi dana murah (CASA) tercatat 70,61 persen.
BERITA TERKAIT: