Narasi tersebut langsung memicu lonjakan optimisme di kalangan investor ritel. Platform analis kripto DeFiTracer bahkan mengklaim kebijakan itu berpotensi menyuntikkan lebih dari 500 miliar Dolar AS ke pasar kripto. Klaim ini memang belum terverifikasi, tetapi cukup kuat mendorong sentimen positif.
Di tengah derasnya spekulasi, harga Bitcoin melonjak 3,76 persen dalam 24 jam terakhir ke level 65.331 dolar AS, menurut data CoinMarketCap pada Rabu, 25 Februari 2026.
Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya total kapitalisasi pasar kripto sebesar 3,16 persen, menunjukkan bahwa reli tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga di pasar secara keseluruhan.
Menariknya, pergerakan Bitcoin saat ini sangat selaras dengan pasar saham Amerika Serikat. Korelasinya mencapai 94,8 persen terhadap indeks S&P 500, yang tercermin melalui ETF SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY). Artinya, selain rumor pajak, faktor makroekonomi global juga turut memengaruhi arah pergerakan harga.
Meski harga menguat, secara teknikal Bitcoin masih berada dalam tren menurun karena diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan utama. Namun, indikator RSI 14 hari berada di level 30,87, yang menunjukkan kondisi jenuh jual (oversold) dan membuka peluang terjadinya pantulan jangka pendek.
Jika harga mampu bertahan di atas 64.000 Dolar AS, Bitcoin berpotensi menguji area resistance di sekitar 66.535 dolar AS. Sebaliknya, jika gagal bertahan di atas level tersebut, harga bisa kembali menguji area terendah terbaru di 60.074 dolar AS.
BERITA TERKAIT: